BAB I

SEKILAS BIOGRAFI

KH. ASY’ARI UMAR

Silsilah secara historis merupakan media dalam menemukan asal-usul seseorangnarrative paper topics yang mengarah pada pengungkapan esensi dirinya yang menyejarah dalam kehidupan nyata. Islam sendiri secara tegas menyatakan bahwa perbedaan status seseorang secara simbolik dengan latar belakang keturunannya, peran sosial dan status ekonominya serta segala sesuatu yang bersifat lahiriyah tidak menjadi kualitas yang diperhitungkan. Kualifikasi dalam Islam diukur dari ketakwaannya. Sedangkan hakikat takwa sendiri memiliki makna yang universal, baik dalam pengertian vertikal maupun horizontal. Keterhubungan dengan ilahi merupakan koneksi vertical, adapun horizontal terkait dengan masalah sosial kemasyarakatan.

Perwujudan dari keselarasan keduanya adalah  insan kamil, yang mencerminkan kesalehan secara ritual maupun sosial sebagai manifestasi dari ketakwaan seseorang.

Silsilah sekurang-kurangnya akan bermakna, jika memiliki nilai-nilai i’tibar (pengingat) yang positif bagi generasi penerusnya untuk meneladani pola pikir dan sikap para pendahulunya. Berangkat dari titik ini, silsilah itu kita coba telusuri, untuk melihat apakah seseorang memiliki kesalehan secara ritual maupun sosial. Namun, jika tidak memiliki keduanya, maka meskipun ia dilahirkan dari rahim raja bahkan Nabi sekalipun, tidak akan mendapatkan temapt di hadapan Allah, demikian juga dalam hati generasi sesudahnya.

Terkait dengan penelusuran silsilah KH. Asy’ari Umar, paradigma yang digunakan adalah sisi peran dirinya sebagai seorang ulama. Sementara pada aspek geneologi, digunakan untuk menemukan mata rantai sejarah seorang KH. Asy’ari Umar dengan leluhurnya dan anak keturunannya. Dengan demikian, penelusuran silsilah KH. Asy’ari Umar dapat ditemukan koneksinya dengan para penyebar Islam di Madura tempo dulu, dan pada generasi berikutnya ditemukan pada diri KH. Asy’ari Umar yang mampu berkiprah di tengah-tengah masyarakatnya, seperti yang dilakukan oleh leluhurnya pada jamannya.

Asy’ari Umar adalah salah satu sosok ulama di antara sekian banyak keturunan Ulama Madura yang memiliki kepribadian unik, gigih dalam menuntut ilmu, serta kesabaran dalam membina santri, keluarganya dan masyarakat. Akhirnya, semoga peran-peran beliau bisa menjadi suri tauladan yang baik (al-uswah al-hasanah) bagi anak-anak keturunannya, para santri dan alumninya, serta juga bagi masyarakat pada umumnya.

    chiefessays.net

  1. Silsilah dan Kehidupan Masa Kecil KH. Asy’ari Umar

Asy’ari Umar dilahirkan di Desa Sambilengan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Tidak ada yang tahu pasti tanggal berapa tepatnya beliau dilahirkan. Nama kecil beliau sebenarnya adalah Marzuqi. Nama Asy’ari Umar didapatkannya saat beliau menunaikan ibadah haji. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan orang Madura untuk mengganti namanya saat menunaikan ibadah haji.

Silsilah KH. Asy’ari Umar bisa dirunut dari KH. Abdul Karim (buju’ Sambilangan) yang berasal dari Desa Sambilangan. Desa tersebut terletak di bagian Barat Kabupaten Bangkalan dekat mercusuar yang berada di pinggir Pantai. Dari KH. Abdul Karim, silsilahnya kemudian berlanjut kepada Kiyai Muqaddas, Nyai Fatimah, Kiyai Umar, dan Kiyai Marzuqi (KH. Asy’ari Umar). Ayah beliau yaitu Kiyai Umar mempunyai dua istri, pertama adalah Nyai Maimunah yang memiliki dua orang putra dan putri, yaitu KH. Asy’ari Umar dan Nyai Fatimah. Sedangkan Istri keduanya, bernama Derani dikaruniai empat orang putra dan putri, yaitu Nyai Sayyara, Kiyai Hafiluddin (saat ini tinggal di desa Keleyan kecamatan Socah), Maimuna, dan yang bungsu adalah Hanna.

Selain merupakan keturunan dari seorang Ulama, sebagaimana para Ulama/Kiyai Madura yang pada umumnya memiliki hubungan nasab dengan para penguasa atau raja-raja, KH. Asy’ari Umar juga merupakan keturunan darah biru dari Pangeran Lambeng yang berada di Aer Mata, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan.

Silsilah KH. Asy’ari Umar dari jalur ibu dapat dirunut dari KH. Abd Rohim Kwanyar. KH. Abd Rohim memiliki empat orang putra, yaitu Kiyai Nur, Kiyai Abd Ghaffar, Kiyai Tahher, dan Kiyai Zainal Abidin. Ibu dari KH. Asy’ari Umar, yakni Nyai Maimunah merupakan putri Kiyai Nur.

Di masa kecilnya, KH. Asy’ari Umar tergolong anak yang cerdas, pintar dan rajin. Beliau mempunyai minat yang tinggi untuk menuntut ilmu, sehingga segala rintangan dalam usahanya menuntut ilmu dapat Ia atasi. Misalnya, saat beliau berkeinginan berguru kepada Syeikhona Kholil Bangkalan, di mana menurut riwayat terdapat perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara kedua kakek buyut mereka. Diceritakan bahwa antara buju’ Sambilangan dan buju’ Langgurdih yang menjadi cikal bakal keduanya, berbeda pendapat dalam menafsirkan Laa ma’budu bi haqqin illaa billaahi. Menurut buju’ Sambilangan, orang dibolehkan taat kepada selain Allah SWT, yakni kepada bapak-ibu (buppa’-bebu’), guru (guruh), ratu (ratoh), yang kemudian menjadi falsafah sikap orang Madura. Sedangkan menurut buju’ Langgurdih, menyembah pada ratu itu tidak boleh, bahkan hukumnya murtad. Perbedaan pendapat ini, semakin hari semakin tajam, sehingga kedua belah pihak saling berjanji agar keturunannya tidak boleh saling berguru. Namun, anehnya seorang KH. Asy’ari Umar sebagai keturunan keempat dari buju’ Sambilangan sangat ingin berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.

Melihat keinginan anaknya yang sangat menggebu, akhirnya Kiyai Umar mengantarkan KH. Asy’ari Umar kepada Syaikhona Kholil. Saat itu terjadi dialog antara Kiyai Umar dan Syaikhona Kholil. Kurang lebihnya, ”Kadinapah neka’ potra tak neng bunten se monduggeh de’ sampeyan”(bagaimana anak saya ini, sangat berkeinginan mondok ke sampean) kata Kiyai Umar. Jawaban Syaikhona Kholil saat itu, ”hendaknya kemarahan-kemarahan versi kakek buyut kita jangan diteruskan”. Kondisi ini merupakan salah satu bukti bahwa KH. Asy’ari Umar bisa melampaui perseteruan kakek buyutnya, yang menjadi penghalang beliau menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil. Tantangan kedua yaitu saat beliau diperintahkan oleh Syaikhona Kholil untuk menuntut ilmu ke Mekah yang juga akhirnya berhasil diatasi, yang akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

  1. Menyelami Samudera Pendidikan: Sekilas

Jenjang Pendidikan KH. Asy’ari Umar Sudah menjadi kebiasaan Kiyai Madura berkeinginan agar anak cucunya melanjutkan menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam. Hal ini, juga dialami oleh KH. Asy’ari Umar, proses penempaan dirinya agar menjadi orang yang berilmu, dimulai dari pondok pesantren di Desarmah-Surabaya. Di sana beliau berguru kepada KH. Faqih. Setelah beberapa tahun, beliau pindah ke pondok Demangan Bangkalan, disanalah KH. Asy’ari Umar menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil yang tidak hanya terkenal dengan ilmu agamanya namun juga karamahnya yang luar biasa.

Selama di pondok Demangan, beliau tidak hanya belajar ilmu agama, namun juga membantu pekerjaan-pekerjaan Syaikhona Kholil (ngabuleh), seperti mengangkut air dan berjualan kepada para santri. Hingga beberapa tahun belajar di Demangan, KH. Asy’ari Umar dipanggil oleh Syaikhona Khalil dan disuruh ke Mekkah. Mendapatkan anjuran seperti itu, beliau langsung mengatakan kepada ayahnya. Namun, ayahnya mengatakan tidak memiliki cukup uang untuk membiayai beliau menuntut ilmu di Mekkah. Uang yang dimiliki ayahnya hanya cukup untuk biaya naik haji. Selanjutnya, beliau kembali ke Demangan dan menyampaikan kondisi keuangan yang dimiliki keluarganya.

Mendengar penuturan KH. Asy’ari Umar, sang guru kemudian menyuruhnya untuk melakukan perjalanan ke Batu Ampar Sampang. Sebelum berangkat sang guru mengambil kertas dan menuliskan sesuatu diatasnya. Kertas tersebut diberikan kepadanya, sambil memerintahkan agar ditunjukkan setiap beliau bertemu dengan tokoh agama dan masyarakat, selama dalam perjalanan.

Dari perjalanan tersebut beliau mendapatkan dua pikul uang, yang konon tidak hanya didapatkan dari pemberian manusia, melainkan juga dari pemberian jin. Menurut riwayat lain, diceritakan bahwa Kiyai Asy’ari bertirakat di Batu Ampar, yang kemudian mendapatkan satu keranjang emas.

Dirasa bekal finansial telah cukup, berangkatlah Kiyai Asy’ari menuju Mekkah, dan berguru kepada Syaikh Hasan al-Yamani dan kepada adiknya (Syaikh Sa’id al-Yamani), sepeninggal Syaikh Hasan. Setelah belasan tahun di Mekkah, beliau pulang ke Madura. Namun tidak lama kemudian, beliau pergi ke Mesir untuk melengkapi ilmunya. Di sana beliau belajar menulis serta mendalami ilmu nahwu-shorrof, karena pada saat itu Mesir sudah menjadi pusat pengetahuan Islam. Riwayat lain mengatakan bahwa dari Mekkah, beliau langsung menuju Mesir. Sepulangnya dari Mesir ini, nampak sekali perbedaan perspektif keilmuan Islamnya dengan ulama sezamannya, selain itu beliau juga mempunyai keunggulan ilmu tulis-menulis Arab serta pengetahuan nahwu-shorrof daripada ulama yang lain.

  1. Mengarungi Bahtera dengan Nyai Sa’diyah

Orang Madura selain mempunyai kebiasaan merantau, hal yang juga menjadi ciri khas orang Madura adalah menjaga dan memelihara ikatan kekerabatan di antara sanak keluarganya, antara lain dengan menikahkan anak-anaknya dengan anak kerabatnya. Hal ini dilakukan oleh orang Madura atas pertimbangan agar tidak akan kaelangan obur (tidak akan berada dalam suasana kegelapan, sehingga tidak tahu lagi siapa sanak keluarga atau kerabatnya).

Hal tersebut, bagi orang Madura seakanakan menjadi kewajiban kultural yang berguna untuk menambah eratnya hubungan kekerabatan (sataretanan) dalam kehidupan masyarakat Madura.

Konsep kekerabatan atau sanak keluarga pada masyarakat Madura, kurang lebih sama dengan masyarakat yang lain, yaitu mengacu pada hubungan geneologis, dan juga hubungan perkawinan (taretan ereng). Dalam hal ini, menurut masyarakat Madura, konsep kekerabatan mencakup sampai empat keturunan dari ego baik ke atas maupun ke bawah. Semua kerabat ini dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu taretan dalem (kerabat inti), taretan semma’ (kerabat dekat), dan taretan jauh (kerabat jauh).

Tepatnya setelah pulang dari Mekkah, beliau melangsungkan pernikahan dengan Nyai Sa’diyah, saudari teman karibnya waktu mondok di Demangan, yakni Kiyai Nur Yasin. Ketika menikah dengan Nyai Sa’diyah, sebenarnya umur beliau terpaut jauh sekitar umur 20, sedangkan istrinya 13 tahun. Nyai Sa’diyah adalah putri dari KH. Yasin dan istrinya bernama Safinah yang merupakan sepupu dari Ibunya (Maimunah). Safinah sendiri putri dari Abdul Ghafar adik Kiyai Nur, keduanya adalah putra dari Kiyai Abd. Rahim Kwanyar. Dari ini sebenarnya, antara KH. Asy’ari dan Nyai Sa’diyah masih ada hubungan kekerabatan yaitu dua pupu. Dari pernikahannya dengan Nyai Sa’diyah inilah, beliau dikaruniai 10 anak, tiga laki-laki dan yang tujuh adalah perempuan. Antara lain; KH. Kholil, Maimunah, Ummu Kultsum, Sirry Tayyibah, Shafiyah, Umar Sa’id, Salamah, Nizar, Salamaturrumiyah, dan Afrah.

  1. Ulama yang Bertani

Dalam kesibukannya sebagai seorang Kiyai di pondok pesantren kecil di tempatnya, ia juga mempunyai kesibukan yang tidak hanya berguna untuk diri dan keluarganya melainkan juga bagi santri serta masyarakat sekitar. Ia merupakan Kiyai yang mepunyai etos kerja luar biasa, dan beliau memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan keterbelakangan rakyat akibat penjajahan dan kekejaman Belanda.

Pesantrennya yang bersebelahan dengan laut ini menampung anak-anak nelayan dan petani. Seperti yang kita pahami bersama, bahwa kolonialisme Belanda telah berhasil mengikis mereka dari pengaruh laut. Armada yang tadinya begitu perkasa setingkat demi setingkat dihancurkan. Mereka dengan sengaja mengubah dari bangsa maritim menjadi bangsa agraris.

Belanda berhasil menarik keuntungan dari sifat agraris ini. Rempah-rempah, hasil karet, gula dan teh diangkut ke Eropa. Indonesia yang negerimaritim berubah menjadi negeri agraris hingga sekarang, di samping itu juga secara sadar mereka telah mempersilahkan kepada orang Belanda untuk di eksploitasi.

Seperti yang kita pahami bahwa produktifitas tanah pertanian di Madura sekitar 1922-1927 terhitung rendah. Hasil ladang-ladang padi dan jagung kira-kira hanya separuhnya Jawa. Di Madura 1 bau tegal menghasilkan kira-kira 5 pikul jagung, sedangkan rata-rata di Jawa adalah 12,5 pikul (De Bodem Mohr: 1938). Kekurangan bahan pangan tak terelakkan, meskipun konsumsi tetap rendah.

Sedangkan gabah hanya 9’07 kuintal perhektar. Perhitungan relatih gabah menjadi beras adalah 1,5 dibanding 1, maka produktifitas perhektar menjadi 6,05 kuintal beras bersih. Jumlah produksi padi di Madura tahun 1932, dengan 81.283 hektar sawah dan tegal yang ditanami padi, menghasilkan 491.762 kuintal beras, atau 49.176.215 kilogram. Dengan memakai gambaran rata-rata beras yang dikomsumsi di Jawa tidak termasuk Madura—adalah 100,3 kilogram per-orang pertahun, maka produksi padi di Madura barangkali hanya akan mendukung kira-kira 25 persen dari jumlah penduduknya (menggunakan sensus tahun 1930). Dengan demikian, orang Madura mengonsumsi beras lebih rendah disbanding orang jawa, karena padi didistribusikan untuk orang banyak.

Sekalipun begitu, kekurangan padi di Madura masih terus berlangsung. Dilaporkan bahwa tahun 1806 pengiriman padi untuk Belanda tidak pernah terjadi dan dapat dimaklumi bahwa waktu itu orang madura sangat kekurangan beras. Madura menjadi pengimpor beras sejak kontak pertama dengan kekuatan kolonial. Pada tahun 1866, 1867, dan tahun 1868, Pamekasan mengimpor beras dari berbagai daerah sejumlah 98.178 pikul padi dan 41.119 pikul beras pada tahun pertama, 22.453 pikul padi dan 17.703 pikul beras pada tahun ketiga dan 13.538 pikul padi dan 23.731 pikul pada tahun ketiga.

Gambaran di atas tentu saja lebih rendah rendah dari impor yang sebenarnya. Demikian juga impor jagung yang begitu besat. Pada tahun 1873, jumlah seluruh bahan pangan yang di impor adalah 16.064 pikul beras, 2.666 pikul padi, dan 4.322.000 bulir jagung. Beras tidak hanya diimpor dari Jawa dan Bali tetapi juga dari Singapura, Bangkok, dan Saigon.

Pada tahun 1877, telah dilaporkan oleh pemerintah bahwa telah terjadi kekurangan bahan pangan dan itu terus berlangsung beberapa tahun ke depan hingga, dan terus merembet ke Madura dan cukup parah. Pada tahun 1903, 11 persen kegagalan panen di Madura menjadikan masalah persediaan-pesediaan bahan pangan semakin memburuk. Pemerintah membantu memberikan bantuan bahan-bahan pangan diberikan untuk distrik Kedungdung, Ketapang, Torjun dan Kota Sampang.

Kelaparan yang serius terjadi lagi pada tahun 1918, yang bersamaan dengan suatu pemogokan di Pamekasan. Lima ratus orang dilaporkan telah mengajukan permohonan pada residen untuk meminta bantuan dengan cuma-cuma. Di desa Galis, 35 orang datang menemui kepala subdistrik untuk meminta bantuan dan sumbangan.

Berdasarkan laporan instruktur pertanian di Pamekasan terlihat 300 orang berkumpul mencari sisa-sisa kacang disebidang tegal. Penduduk di desa itu, hanya makan nasi 3 hari sekali, selama 4-5 bulan, sedangkan untuk hari-hari lainnya memakan ampo (lempung merah yang dapat dimakan dan ubiubian).

Bantuan bahan-bahan pangan dari pemerintah telah di distribusikan disetiap desa. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Pamekasan saja, melainkan juga seluruh Madura. Indikatornya adalah pada tahun 1929 berat badan rata-rata dari 43 pasukan di Bangkalan, Sampang dan Sumenep hanyalah 46,34 kilogram, sedangkan berat rata-rata serdadu orang-orang Ambon dan Minahasa adalah 57 kilogram. Pada tahun 1939, ketika pekerja-pekerja migran direkrut untuk dijadikan anggota serdadu, beberapa calon tidak memenuhi persyaratan dari 2.708 orang, 1.585 orang atau 59 persen tidak terpakai. Dari laporan resmi menunjukkan karakteristik orang Madura pada waktu itu disebutkan sebagai ”hampir menderita kelaparan”.

Rentetan fenomena ini, tentunya juga dirasakan oleh KH. Asy’ari Umar, dan memberikan dorongan inspirasi hendak memberikan nuansa baru bagi masyarakat dengan bertani. Harapannya adalah dengan bertani dapat mempunyai kemandirian pangan dan juga meningkatkan hasil pertanian. Selepas mengajar di Mushalla kepada para santri setelah subuh, biasanya sekitar jam tujuh, langsung mengambil cangkul dan mengajak para santri ke sawah untuk bertani bersama, menggarap beberapa patang sawah. Kebetulan letak sawahnya tidak jauh dari pondok.

Apa yang dilakukan KH. Asy’ari ini, merupakan wujud aksi dalam rangka memberi penyadaran agar para santri bisa mandiri secara ekonomi dengan mengandalkan hasil pertanian, disatu sisi beliau mengajari agar para santri memahami pentingnya kebersamaan, karena hasil panen tidak hanya dimakan oleh beliau dan keluarganya, melainkan hasil panen tersebut disimpan untuk keperluan santri dan masyarakat yang mengalami kekurangan pangan.

Dengan demikian, setidak-tidaknya apa yang dilakukan KH. Asy’ari, merupakan usaha beliau dalam memberikan jalan bagi masyarakat untuk keluar dari krisis pangan yang tengah melanda saat itu, sekurang-kurangnya juga terdapat beberapa masalah utama sekaligus beberapa solusi jitu sebagai terobosan untuk menegakkan ekonomi rakyat, terutama pada kaum mayoritas, yakni petani mandiri, akhirnya berdaya dan memiliki kehidupan yang beradab.

 

BAB II

PROSES PEMBENTUKAN KARAKTER INTELEKTUAL KH. ASY’ARI UMAR

 

  1. Dari Panji menuju Demangan

Proses pendidikan KH. Asy’ari Umar diawali dari didikan orang tuanya. Seperti kebanyakan keluarga kiai, ayah beliau kemudian mengirim KH. Asy’ari Umar ke Batu Ampar, Pamekasan. Disini beliau belajar al-Qur’an. Selama di Batu Ampar beliau seperti pada kabanyakan orang Madura, menghatamkan al-Qur’an dan beberapa ilmu dasar lainnya di bidang al-Qur’an. Asy’ari kecil boleh dibilang anak yang cerdas dan memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu agama. Bakat ini merupakan kebiasaan dari sebuah keluarga taat beragama dimana ketika leluhur keluarga tersebut memiliki kecintaan yang kuat terhadap ilmu, maka kebiasaan itu akan turun kepada anak cucunya. Sebagaimana disebutkan pada bab sebelumnya, KH. Asy’ari Umar berasal dari keluarga cukup terpandang di masyarakat. Keluarga beliau berasal dari daerah Sembilangan, kalau sekarang di dekat Masjid Syaichona Kholil dekat mercusuar. Untuk zamannya, keluarga leluhur KH. Asy’ari Umar dan keluarga Syaichona Kholil merupakan dua kutub leluhur yang memiliki pengaruh di Bangkalan. Di desa Sembilangan terdapat buju’ (tapak tilas) yang melahirkan keturunan KH. Umar dan KH. Asy’ari Umar, sedangkan di Demangan ada buju’ Sabreh yang melahirkan keturunan KH. Abdul Latif dan Syaichona Kholil.

Ketokohan dua keluarga tersebut pernah memuncak dalam hubungan kekerabatan. Tepatnya ketika saat itu terdapat perdebatan tentang peribahasa “Buppak Bebu’ Guruh Ratoh”. Buju’ Sabreh pada saat itu perna mengeluarkan sebuah pernyataan “Ma’ budu min Ba’dih” yang disinyalir mengandung makna bahwasanya “haram hukumnya menyembah ratu”. Buju’ Sabreh menilai bahwa kewajiban mutlak manusia adalah menyembah AllahSWT, dan tidak ada keterwakilan penyembahan itu kepada mahluknya, termasuk kepada ratu, kecuali kepada orang tua.

Pernyataan tersebut memantik persoalan di kalangan kerajaan dan Pemerintah Hindia saat itu. Sebab, ratu merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Hindia Belanda, sehingga ketika muncul pernyataan diatas, maka goyanglah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Bangkalan saat itu. Ketundukan masyarakat menjadi luntur karena pernyataan itu.

Selama bertahun-tahun, pernyataan dari buju’ Sebrah menjadi polemik di masyarakat. Akhirnya, buju’ Sambilangan menanggapi pernyataan buju Sabreh tersebut dengan mengatakan bahwa konsep “ma’ budu min ba’dih” tidak dapat dikaitkan artinya dengan larangan menyembah ratu. Buju’ Sembilangan berpendapat bahwa pemimpin merupakan wakil dalam tatanan sosial yang ditujukan guna menciptakan keteraturan dan ketertiban hukum-hukum sunah Allah SWT di masyarakat. Karenanya tidak dibenarkan melakukan pembangkangan terhadap penguasa yang mendapat mandat.

Kedua pendapat tersebut memiliki alasan yang dapat dibenarkan secara akal sehat dan maknawi hingga bertahun-tahun. Kedua buju’ sama – sama saling mempertahankan diri dengan pendapatnya. Sehingga hubungan kedua buju’ tersebut mengalami kerenggangan. Bahkan konon menurut pernyataan Khairul Asy’ari hubungan tersebut seolah-olah melahirkan kesepakatan tak tertulis yang menyatakan bahwa keduanya tidak boleh saling berguru kepada salah satu keturunan masing-masing.

Sampai bertahun-tahun, keturunan kedua buju’ tersebut tidak saling berguru, kecuali KH. Asy’ari Umar. Asy’ari kecil saat itu meminta kepada ayahnya agar ia dimondokkan di pondok Demangan yang saat itu diasuh oleh Syaichona Kholil. Nama Syaichona Kholil yang santrinya berasal dari beberapa daerah di pulau Jawa tampaknya menarik perhatian Asy’ari kecil. Beliau seolah-olah tidak mau tahu tentang kesepakatan tak tertulis leluhur sebelumnya. Dengan kuat hati, Asy’ari kecil meminta kepada ayahnya agar diantar ke Syaichona Kholil untuk diterima sebagai santrinya.

Umar akhirnya mengalah menuruti keinginan Asy’ari kecil. Dengan perasaan berat karena beban perdebatan “ma’ budu min ba’dih” KH. Umar berangkat ke dearah Demangan untuk bertemu Syaichona Kholil sambil lalu menyatakan niat putra, KH. Asy’ari Umar, untuk belajar kepadanya. Rupanya keinginan Asy’ari kecil diterima dengan senang hati oleh Syaichona Kholil. Beliau tampaknya melihat sosok Asy’ari kecil yang begitu moderat dan terbuka untuk menerima pengetahuan dari siapapun, termasuk dari keluarga buju’ Sambilangan. Disini Asy’ari kecil telah memiliki sikap yang berbeda dari keturunan buju’ Sabreh sebelumnya.

Ketika di Pondok Demangan, KH. Asy’ari Umar menjadi salah satu santri yang sangat disenangi oleh Syaichona Kholil. Terbukti Syaichona Kholil sampai menitipkan kuda peliharaannya kepada KH. Asy’ari Umar untuk diasuh. Ini tentunya wujud kepedulian sekaligus kepercayaan Syaichona Kholil kepada KH. Asy’ari Umar. Jadi selain belajar ilmu agama, KH. Asy’ari Umar juga mendapatkan pelajaran-pelajaran hidup lainnya yang lebih luas dari pada sekedar nyantri.

Selama mondok di Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar seangkatan dengan KH. Nur Yasin, sahabat dekatnya yang kemudian menjadi kakak iparnya kelak. Dalam masa masih menjadi santri atau murid dari Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan santrisantri

Syachona Kholil lainnya. Disitu beliau belajar Tashilu Naili Amani (1.000 bait), karya Syekh Ahmad al-Fathani tentang nahwu dalam bahasa Arab, Matan Alfiyah Ibnu Malik, dan beberapa ilmu dasar al-Qur’an, termasuk juga belajar menulis Arab pegon. Keterampilan menulis Arab pegon ini memang sengaja diajarkan oleh Syaichona. Menurut riwayat yang ditulis oleh Wan Mohd. Saghir Abdullah Diriwayatkan bahwa tulisan Arab pegon dikarang

sendiri oleh Syaichona Kholil bersama dua temannya di Mekkah, yaitu Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang). Ketiga ulama tersohor itu yang menyusun kaedah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

Selama di pesantren Demangan, KH. Asy’ari Umar menjalani hidup yang memprihatinkan dan penuh kesabaran. Kendati mondok di Syaichona Kholil mendekatkan dirinya dengan keluarga namun hal itu tidak berlaku bagi seorang KH. Asy’ari Umar. Beliau tidak pernah mengandalkan diri sebagai keturunan orang besar, tidak pula ia suka meminta-minta kiriman dari orang tuanya, karena orang tuanya memang bukan dari kalangan mampu. Bagi KH. Asy’ari Umar, hidup prihatin, kesabaran serta gigih mencari ilmu adalah tiga kunci untuk dapat mendapatkan rahmat Allah SWT untuk memudahkan menangkap ilmu agama.

Pola hidup prihatin KH. Asy’ari Umar ini tentu sangat cocok bagi Syaichona Kholil. Syaichona Kholil yang merupakan penganut tareqat Qadariyah wa Naqsabandiyah, memahami betul pola hidup yang dipilih santrinya tersebut. Sebab, Syaichona Kholil pun pernah memilih jalur hidup seperti itu.

Sebenarnya, hidup prihatin seperti tidak jadi soal bagi KH. Asy’ari Umar, karena beliau memiliki kebanggaan dan kenikmatan lain melebihi makanan lezat dan hidup berleha-leha, yaitu kenikmatan dan kebanggan menutut ilmu kepada Syaichona Kholil yang sangat alim. Maka dari itu, walaupun KH. Asy’ari Umar menjalani hidup prihatin menurut orang lain, namun tidaklah memprihatinkan buat beliau sendiri. Wajah beliau tidak kalah bersahaja dengan teman-teman sejawatnya yang hidupnya berkecukupan semasa di pesantren Syaichona Kholil.

 

  1. Berguru kepada Syaichona Kholil

Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, KH. Asy’ari Umar sebenarnya berasal dari keluarga terpandang di lingkungannya. Namun demikian, Ays’ari Umar tidak sedikit pun menunjukkan kewibawaan keluarganya kepada teman-teman di pondok Syaichona Kholil. KH. Asy’ari Umar tetap memposisikan dirinya sebagai santri yang tujuan utamanya mencari keridaan Allah SWT dan menambah ilmu agama. Karena hanya dengan Ilmu agama tersebut, kebanggaan seseorang diukur, bukan dari jabatan, keturunan apalagi harta.

Asy’ari Umar, yang berasal dari keturunan buju’ Sabreh, mewarisi ilmu agama yang sangat kuat dari ayahnya. Keluarga KH. Asy’ari Umar sendiri termasuk keluarga yang dipandang oleh Tjakraningrat. Bedanya Tjakraningrat dalam menghormati keluarga buju’ Sabreh dengan buju’ Sambilangan terutama dalam hal penerimaan buju’ Sabreh terhadap kepemimpinan ratu dalam tradisi “Buppak Bebu’ Guruh Ratoh”. Keluarga buju’ Sabreh lebih menerima ratu sebagai salah satu pemimpin yang wajib diikuti perintah dan kedudukannya di mata masyarakat. Penerimaan keluarga buju’ Sabreh ini jelas memberi pengaruh bagi hubungan selanjutnya. Keluarga buju’ Sabreh memiliki hubungan yang jauh lebih dekat dengan buju’ Sambilangan. Namun kedekatan itu hanya sebatas ulama dengan umaro’. Oleh karena itu, dalam diri KH. Asy’ari Umar telah tertanam nilai-nilai kemoderatan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Ketika KH. Asy’ari Umar belajar di Syaichona Kholil, beliau tidak saja sekedar belajar. Namun lebih dari itu, beliau menjadi jembatan hubungan dua pandangan besar yang ada saat itu tentang konsep “Buppak Bebu’ Guruh Ratoh”. KH. Asy’ari Umar remaja tumbuh menjadi sosok yang mudah bergaul dan memiliki ilmu agama yang tinggi.

Syaichona Kholil yang melihat potensi besar seorang KH. Asy’ari Umar kerap memberi pelajaran tambahan seusai merawat kuda Syaichona Asy’ari. Sehingga tak heran hubungan keduanya menjadi sangat dekat. Hanya saja, KH. Asy’ari Umar tetaplah memposisikan diri sebagai santri. Beliau tidak serta merta menggunakan hubungan dekatnya dengan Syaichona Kholil untuk kepentingan pribadinya.

Mengenai nilai-nilai yang diterapkan kepada keluarga dan masyarakat nanti akan dijelaskan lebih lanjut di bab berikutnya. Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik.

Penggunaan istilah khas menunjuk pada pengertian bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususankultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain.3 Kekhususan kultural itu tampak antara lain pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka secara hierarkis kepada empat figur utama dalam berkehidupan, lebih-lebih dalam praksis keberagamaan. Keempat figur itu adalah Buppa,’ Babbu, Guru, ban Rato (Ayah, Ibu, Guru, dan Pemimpin pemerintahan). Kepada figur-figur utama itulah kepatuhan hierarkis orang-orang Madura menampakkan wujudnya dalam kehidupan sosial budaya mereka.4

Bagi entitas etnik Madura, kepatuhan hierarkis tersebut menjadi keniscayaan untuk diaktualisasikan dalam praksis keseharian sebagai “aturan normatif” yang mengikat. Oleh karenanya, pengabaian atau pelanggaran yang dilakukan secara disengaja atas aturan itu menyebabkan pelakunya dikenakan sanksi sosial maupun kultural. Pemaknaan etnografis demikian berwujud lebih lanjut pada ketiadaan kesempatan dan ruang yang cukup untuk mengenyampingkan aturan normatif itu.

Dalam makna yang lebih luas dapat dinyatakan bahwa aktualisasi kepatuhan itu dilakukan sepanjang hidupnya. Tidak ada kosa kata yang tepat untuk menyebut istilah lainnya kecuali ketundukan, ketaatan, dan kepasrahan kepada keempat figure tersebut.

Kepatuhan atau ketaatan kepada Ayah dan Ibu (buppa’ ban Babbu’) sebagai orangtua kandung atau nasabiyah sudah jelas, tegas, dan diakui keniscayaannya. Secara kulturak ketaatan dan ketundukan seseorang kepada kedua orangtuanya adalah mutlak. Jika tidak, ucapan atau sebutan kedurhakanlah ditimpakan kepadanya oleh lingkungan sosiokultural masyarakatnya. Bahkan, dalam konteks budaya mana pun kepatuhan anak kepada kedua orangtuanya menjadi kemestian secara mitlak, tidak dapat dinegosiasikan, maupun diganggu gugat. Yang mungkin berbeda, hanyalah cara dan bentuk dalam memanifestasikannya.

Kepatuhan mutlak itu tidak terkendala oleh apa pun, sebagai kelaziman yang ditopang oleh factor genealogis. Konsekuensi lanjutannya relatif dapat dipastikan bahwa jika pada saat ini seseorang (anak) patuh kepada orangtuanya maka pada saatnya nanti dia ketika menjadi orangtua akan

ditaati pula oleh anak-anaknya. Itulah salah satu bentuk pewarisan nilai-nilai kultural yang terdiseminasi. Siklus secara kontinu dan sinambung itu kiranya akan berulang dan berkelanjutan dalam kondisi normal, wajar, dan alamiah, kecuali kalau pewarisan nilai-nilai kepatuhan itu mengalami keterputusan yang disebabkan oleh berbagai kondisi, faktor, atau peristiwa luar biasa.

Kepatuhan orang-orang Madura kepada figur guru berposisi pada level-hierarkis selanjutnya. Penggunaan dan penyebutan istilah guru menunjuk dan menekankan pada pengertian Kiai-pengasuh pondok pesantren atau sekurang-kurangnya Ustadz pada “sekolah-sekolah” keagamaan. Peran dan fungsi guru lebih ditekankan pada konteks moralitas yang dipertalikan dengan kehidupan eskatologis terutama dalam aspek ketenteraman dan penyelamatan diri dari beban atau derita di alam kehidupan akhirat (morality and sacred world). Oleh karena itu, ketaatanorang-orang Madura kepada figur guru menjadi penanda khas budaya mereka yang –mungkin, tidak perlu diragukan lagi keabsahannya.

Siklus-generatif tentang kepatuhan orang Madura (sebagai murid) kepada figur guru ternyata tidak dengan sendirinya dapat terwujud sebagaimana ketaatan anak kepada figur I dan II, ayah dan ibunya. Kondisi itu terjadi karena tidak semua orang Madura mempunyai kesempatan untuk menjadi figur guru. Kendati pun terdapat anggapan prediktif bahwa figur guru sangat mungkin diraih oleh murid karena aspek genealogis namun dalam realitasnya tidak dapat dipastikan bahwa setiap murid akan menjadi guru, mengikuti jejak orang tuanya. Oleh karenanya, makna kultural yang dapat ditangkap adalah bahwa bagi orang Madura belum cukup tersedia ruang dan kesempatan yang leluasa untuk mengubah statusnya menjadi orang yang senantiasa harus berperilaku patuh, tunduk, dan pasrah.

Kepatuhan orang Madura kepada figure Rato (pemimpin pemerintahan) menempati posisi hierarkis keempat. Figur Rato dicapai oleh seseorang (dari mana pun etnik asalnya) bukan karena faktor genealogis melainkan karena keberhasilan prestasi dalam meraih status. Dalam realitasnya, tidak semua orang Madura diperkirakan mampu atau berkesempatan untuk mencapai posisi sebagai Rato, kecuali 3 atau 4 orang (sebagai Bupati di Madura) dalam 5 hingga 10 tahun sekali. Itu pun baru terlaksana ketika diterbitkan kebijakan nasional berupa Undang-Undang tentang Otonomi Daerah, tahun 1999 yang lalu.

Oleh karena itu, kesempatan untuk menempati figur Rato pun dalam realitas praksisnya merupakan kondisi langka yang relatif sulit diraih oleh orang Madura. Dalam konteks itulah dapat dinyatakan bahwa sepanjang hidup orang-orang Madura masih tetap dalam posisi yang senantiasa harus patuh. Begitulah posisi subordinatifhegemonik yang menimpa para individu dalam entitas etnik Madura.

Deskripsi tentang kepatuhan orang-orang Madura kepada empat figur utama tersebut sesungguhnya dapat dirunut standar referensinya pada sisi religiusitas budayanya. Sebagai pulau yang berpenghuni mayoritas (+ 97-99%) muslim, Madura menampakkan ciri khas keberislamannya, khususnya dalam aktualisasi ketaatan kepada ajaran normatif agamanya.5 Kepatuhan kepada kedua orangtua merupakan tuntunan Rasulullah SAW walaupun urutan hierarkisnya mendahulukan Ibu (babbu’) kemudia Ayah (Buppa’). Rasulullah menyebut ketaatan anak kepada Ibunya berlipat 3 daripada Ayahnya. Selain itu juga dinyatakan bahwa keridhaan orangtua “menjadi dasar” keridhaan Tuhan. Oleh karena secara normatif-religius derajat Ibu 3 kali lebih tinggi daripada Ayah maka seharusnya produk ketaatan orang Madura kepada ajaran normatif Islam melahirkan budaya yang memposisikan Ibu pada hierarki tertinggi. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Kendati pun begitu, secara kultural dapat dimengerti mengapa hierarki Ayah diposisikan lebih tinggi dari Ibu. Posisi Ayah dalam sosiokultural masyarakat etnik Madura

memegang kendali dan wewenang penuh lembaga keluarga sebagai sosok yang diberi amanah untuk bertanggung jawab dalam semua kebutuhan rumah tangganya, di antaranya: pemenuhan keperluan ekonomik, pendidikan, kesehatan, dan keamanan seluruh anggota keluarga, termasuh di dalamnya Sang Ibu sebagai anggota dalam “kepemimpinan” lelaki.

Di sisi lain, kepatuhan kultural orang Madura kepada Guru (Kiai/Ustadz) maupun kepada pemimpin pemerintahan karena peran dan jasa mereka itu dipan dang bermanfaat dan bermakna bagi survivalitas entitas etnik Madura. Guru berjasa dalam mencerahkan pola pikir dan perilaku komunal murid untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan mendiami negeri akhirat kelak. Kontribusi mereka dipandang sangat bermakna dan berjasa besar karena telah memberi bekal untuk survivalitas hidup di alam dunia dan keselamatan akhirat pascakehidupan dunia. Sedangkan pemimpin pemerintahan berjasa dalam mengatur ketertiban kehidupan publik melalui penyediaan iklim dan kesempatan bekerja, mengembangkan kesempatan bidang ekonomik, mengakomodasi kebebasan beribadat, memelihara suasana aman, dan membangun kebersamaan atau keberdayaan secara partisipatif. Dalam dimensi religiusitas, sebutan figur Rato dalam perspektif etnik Madura dipersamakan dengan istilah ulil amri yang sama-sama wajib untuk dipatuhi.

Persoalan yang paling mendasar sesungguhnya terletak padapemaknaan kultural tentang kepatuhan dalam konteks subordinasi, hegemoni, eksploitasi, dan berposisi kalah sepanjang hidup. Pemaknaan tersebut perlu diletakkan dalam posisi yang berkeadilan dan proporsional. Jika kepatuhan hierarkis kepada figur I dan II tidak ada masalah karena terbentang luas untuk memperoleh dan mengubahnya secara siklis maka upaya untak mengubah kepatuhan hierarkis pada figur III dan IV dapat ditempuh melalui kerja keras dan optimisme disertai bekal pengetahuan yang sangat memadai. Karenanya, persoalan – persoalan kultural tentang konsepsi kepatuhan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang tanpa solusi untuk mengubahnya.

Ungkapan budaya Madura: mon kerras pa-akerres (jika mampu dan kompeten untuk berkompetisi maka harus wibawa, kharismatik, dan efektif layaknya sebilah keris) kiranya dapat mengilhami para individu entitas etnik Madura untuk meraih keberhasilan dan ketenteraman dalam menjalani kehidupan yang berdaya di dunia maupun di akhirat.

Selama berguru di Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar di kalangan teman-temannya dikenal sebagai sosok yang cerdas. Menurut penuturan Ahmad Marzuki, selama di Syaichona KH. Asy’ari Umar tumbuh menjadi sosok remaja yang mandiri. Beliau membantu keluarga dalem menjual barang dagangan kepada santri dan masyarakat sekitar pondok. Seperti pada keluarga pesantren lainnya, praktek berdagang biasa dilakukan oleh keluarga kiai pondok pesantren. Hal ini dilakukan sebagai aktifitas ekonomi swadaya keluarga kiai di Indonesia. Hingga saat ini praktek ekonomi swadaya masih banyak ditemui di kalangan keluarga pengasuh pondok pesantren. KH. Asy’ari Umar yang selama di Pondok Demangan dikenal cukup dekat dengan Syaichona juga kerapkali mendapat kepercayaan dari keluarga Syaichona Kholil untuk menjajakan dagangan keluarga sang guru. Dari hasil dari jualan itu kemudian KH. Asy’ari Umar sering mendapat imbalan, meskipun dalam hatinya beliau membantu keluarga sang guru dengan ikhlas. Beliau beberapa kali mengembalikan pemberian keluarga Syaichona Kholil, namun beliau dipaksa menerima pemberian tersebut. Akhirnya demi menghargai perhatian keluarga sang guru, mau tidak mau beliau akhirnya dengan terpaksa menerima imbalan tersebut.

Kemandirian KH. Asy’ari Umar tidak hanya dari sisi berdagang. Beliau juga seringkali mengajar rekan-rekannya sesama santri di pondok pesantren Syaichona Kholil dan masyarakat sekitar. Beberapa rekannya yang kurang paham seringkali bertanya dan belajar secara privat/pribadi kepada KH. Asy’ari Umar diluar jam ngaji yang diberikan oleh pondok. Tidak hanya itu, beliau juga sering mengajar di luar rekan-rekannya. Lewat mengajar itu, beliau kerapkali menerima upah dari mengajar privat tersebut. Maka tak heran jika KH. Asy’ari Umar selama di mondok di Syaichona Kholil sudah memiliki penghasilan. Konon, jika orang tua santri datang ke pondok Syaichona Kholil untuk mengirim uang dan jajan, KH. Umar datang ke pondoknya selain menjenguk Syaichona Kholil juga menjenguk putra, sekaligus KH. Asy’ari Umar menyisihkan sebagian penghasilannya kepada ayahnya untuk biaya kebutuhan dan biaya pertanian di rumahnya.

Jadi selama di Syaichona Kholil, sedikitnya terdapat beberapa perkembangan pada diri KH. Asy’ari Umar. Pertama, beliau adalah keturunan buju’ Sabreh yang pertama kali yang membuka jalur kebuntuan komunikasi antara dua keturunan terhormat, yakni buju’ Sabreh dan buju’ Sambilangan, melalui cara mondok di Syaichona Kholil. Kedua, selama di Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar tumbuh menjadi sosok pemuda yang mengalami pemahaman ilmu agama yang jauh lebih pesat, bahkan beliau sudah mampu memberi pelajaran kepada rekan-rekannya yang kebetulan kurang memahami pelajaran dari Syaichona Kholil. Keempat, beliau memiliki ilmu praktis dengan cara belajar berdagang dengan cara menjualkan dagangan keluarga Syaichona Kholil di sekitar pondok. Khusus untuk perkembangan ketiga dan keempat, KH. Asy’ari Umar kemudian menjadi sosok yang mandiri selain tentunya mendapatkan penghasilan.

  

  1. Dari Bangkalan Menuju Mekkah

Selama belajar di Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar hidup dalam penuh keprihatinan. Meskipun akhirnya beliau bisa mendapatkan penghasilan dari mengajar dan menjual dagangan keluarga gurunya, tidak menyebabkan beliau hidup berleha-leha. Hasil “kerja kerasnya” lebih banyak diberikan kepada keluarganya untuk membantu kebutuhan sehari-hari. KH. Asy’ari Umar semasa mondok di Syaichona Kholil kerapkali berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Siang hari di sela-sela belajar kepada Syaichona Kholil, beliau juga menambah amal ibadah lainnya dengan membaca al-Qur’an dan bershalawat, sedangkan di malam hari beliau gunakan waktu untuk bertaqarrub kepada Allah SWT. Hal ini dilakukannya demi mendapatkan ridla Allah SWT, terlebih lagi keinginannya yang kuat untuk pergi menuntu ilmu di Mekkah.

Keinginan ke Mekkah ini tampaknya diketahui oleh Syaichona Kholil. Syaichona Kholil yang dikenal memiliki karomah tentu paham betul kemana arah pikiran santri-santrinya, termasuk jalan pikiran KH. Asy’ari Umar. Akhirnya Syaichona Kholil memanggil KH. Asy’ari Umar ke kediamannya.

Sebagaimana layaknya komunikasi guru dan murid, KH. Asy’ari Umar tidak sedikit pun mengangkat wajahnya ketika berkomunikasi dengan gurunya. Di kalangan pesantren yang dikenal sangat menjunjung tinggi akhlak dana tatakrama, mengangkat wajah ketika diajak berbicara oleh sang guru merupakan tindakan yang tidak patut. Ketika itu, Syaichona Kholil menyuruh kepada KH. Asy’ari Umar untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. KH. Asy’ari Umar seketika itu wajahnya menjadi sumringah karena dua sebab. Pertama, keinginan gurunya ternyata sama dengan niatnya, dan kedua, perintah Syaichona Kholil untuk tentu melanjutkan studi ke Mekkah tentu bukan sekedar perintah. Perintah itu berarti bahwa niatnya telah mendapat dukungan dari sang guru. Bagi KH. Asy’ari Umar, dukungan gurunya tersebut menjadi harta yang tak ternilai harganya.

Maksud perintah Syaichona Kholil untuk belajar ke Mekkah adalah untuk belajar kepada Syech Hasan al-Yamani dan Syech Said Yamani, dua ulama besar di Mekkah yang banyak melahirkan tokoh-tokoh agama di seluruh dunia.

Murid-murid Syech al-Yamani dari Indonesia sangat banyak. Kebanyakan murid-murid yang belajar kepada Syech al-Yamani adalah putra-putra kiai terkenal, keluarga terhormat, bahkan keluarga ningrat.

Setelah mendapat perintah Syaichona Kholil untuk belajar ke Mekkah, akhirnya KH. Asy’ari Umar pulang dan memberitahukan kepada ayahnya. Mendengar kabar itu, ayahandanya, KH, Umar, senang bercampur sedih. Senang karena keinginan putranya ternyata sama dengan keinginan gurunya, sementara sedih karena saat itu tidak ada uang buat biaya perjalanan ke Mekkah. Dari beberapa beberapa sumber dikatakan bahwa KH. Umar saat itu hanya memiliki 60 rupiah untuk diberikan kepada KH. Asy’ari Umar sebagai bekal. Sementara ada keterangan lain bahwa saat itu uang yang dimiliki sekitar 90 rupiah, namun ada juga yang mengatakan 25 sen. Namun yang jelas saat itu, KH. Umar menghitung semua harta yang dimilikinya, termasuk sawah, jika dijual tidak cukup untuk membiayai KH. Asy’ari Umar di Mekkah, kecuali kalau sekedar melaksanakan haji.

Kondisi itu akhirnya dikabarkan oleh KH. Asy’ari Umar kepada Syaichona Kholil. Kemudian Syaichona Kholil memberi sebuah catatan di kertas dan diberikannya kepada KH. Asy’ari Umar. Dalam pertemuan itu, Syaichona menyuruh kepada KH. Asy’ari Umar pergi ke Batu Ampar. Syaichona Kholil kepada KH. Asy’ari Umar menyuruh agar surat yang ditulis tangan Syaichona Kholil itu ditunjukkan kepada orang di saat ada masjid atau juga kepada tokoh-tokoh masyarakat selama menjalani perjalanan ke Batu Ampar. Konon ada cerita bahwa hasil pemberian orang-orang selama ke Batu Ampar kurang lebih 2 pikul yang diperoleh. Ada juga riwayat keluarga setelah mendengar kabar orang lain bahwa yang memberi uang tidak saja manusia tapi juga jin. Walluhu a’lam.

Akhirnya setelah memperoleh bekal cukup dan diiringi doa orang tua dan Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar kemudian berangkat menuju Mekkah. Selama menempuh pendidikan di Mekkah, kebiasaan hidup sederhana dan prihatin tetap dijalankan seperti waktu di Indonesia. Di Mekkah, KH. Asy’ari Umar melakoni pola hidup yang sama persis dengan yang dilakukan gurunya, Syaichona Kholil. Seperti kebiasaan santri yang diberi amanah untuk melanjutkan pendidikan di Mekkah, Syaichona selalu berpesan hidup prihatin dan sedehana kepada santri-santrinya selama di Mekkah. Bahkan tak jarang Syaichona menegaskan agar santri-santrinya yang belajar di Mekkah betul-betul menghormati tanah haram, yaitu masjidil Haram dan sekitarnya. Begitu pula dengan KH. Asy’ari Umar.

Selama di Mekkah beliau minum dari air zam-zam. Karena selain air zam-zam merupakan air yang memiliki khasiat yang sangat istimewa bagi kesehatan seseorang, juga sekaligus membiasakan hidup sederhana. Kebiasaan gurunya yang lain pun juga ikut dilakukan, seperti jika hendak membuang hajat besar, sebaiknya dilakukan jauh dari tanah Haram. Ini juga dilakukan oleh KH. Asy’ari Umar. Pendek kata semua kebiasaan Syaichona Kholil diikuti dengan penuh ketaatan oleh KH. Asy’ari Umar demi mendapatkan keberkahan mencari ilmu di Mekkah.

Selama di Mekkah KH. Asy’ari Umar mendalami ilmu Nahwu Shorrof, karena kedua ilmu ini merupakan alat dalam memahami kitab-kitab klasik Islam, seperti ilmu al-Qur’an (ulumul Qur’an), Ilmu Hadith (ulumul Hadith), dan ilmu-ilmu fikih (Qawaidul Fiqhiyyah) serta beberapa kitab-kitab rujukan lainnya seperti Sullam Safinah, Imriti dan jurmiyah. Beliau termasuk orang yang sangat rajin mengikuti pelajaran dari Syech al-Yamani.

Berdasarkan penuturan adiknya, KH. Hafiluddin, (semoga Allah SWT memberkahi umurnya), selama di Mekkah, KH. Asy’ari Umar sesekali menjadi pentashih kitab-kitab yang diajarkan guru-gurunya di Mekkah, namun secara individual. Artinya bagi kebutuhan dirinya untuk kelak sebagai bekal dakwah setelah kembali ke Madura. Beliau juga dengan tekun mempelajari tujuh bacaan al-Qur’an (qira’atus Sab’ah). Selama 9 tahun di Mekkah beliau memahami betul bagaimana geliat pemikiran Islam di dunia Islam lewat interaksi sehari-harinya dengan sesama santri dari seluruh penjuru dunia yang belajar bahasa Arab dan ilmu agama kepada Syech Hasan al-Yamani dan Syech Said al-Yamani.

Cara belajar KH. Asy’ari Umar selama di Mekkah selalu meniatkan diri ikhlas karena Allah SWT. Beliau tidak peduli dengan pahitnya kehidupan saat itu, karena yang beliau pentingkan adalah ilmu, dengan harapan Allah SWT meridlai ilmu yang beliau dapat dari gurunya. Tanpa ridla Allah SWT, sealim apapun gurunya dan secerdas apapun guru dalam menerangkan ilmu kepada muridnya jika tanpa ridla Allah SWT, maka tiada kekuasaan manusia untuk dapat memahami maksud ilmu yang diperolehnya. Dengan keikhlasan itu KH. Asy’ari Umar tentu Allah SWT sangat menghormati orang yang menuntut ilmu dengan penuh ketawadluan, dengan rendah hati, dan hidup sederhana serta fokus pada tujuan mencari ilmu.

Asy’ari Umar juga meneladani sikap dan akhlak yang tinggi kepada Allah SWT, guru dan ilmu yang dipelajari. Kebiasaannya meminum air zam-zam dan membuang hajat di luar tanah haram (Mekkah) merupakan sebuah sikap yang dapat diartikan dari kepatuhannya kepada petuah sang guru dan penghormatannya kepada Masjidil Haram.

Beliau merasa tidak sopan jika membuang hajat di lingkungan tanah suci Mekkah. Selain itu, KH. Asy’ari Umar sangat cinta, hormat, dan patuh kepada gurunya, tentunya setelah memilih guru yang layak. Apapun beliau berikan kepada guru, untuk membantu dan membuat sang guru ridla. Dihadapan gurunya, beliau siap sedia untuk diperintah melebihi budak dihadapan tuannya.

Semua itu beliau lakukan sebagai wujud rasa terima kasih atas ilmu yang diberikannya selama merantau jauh dari keluarga. Selain itu, wujud terima kasihnya beliau balas dengan cara belajar dengan giat, karena hanya dengan belajar giatlah satu-satunya cara untuk menunjukkan rasa cinta kepada ilmu. Ibarat pepatah Arab, “ikatlah dirimu dalam ilmu dan tekuni ilmu itu niscaya engkau akan ingat ilmu yang kau pelajari hingga akhir hayatmu”.

 

  1. Menuju Mesir: Berkenalan dengan Dunia Intelektual Lintas Mazhab

Dari riwayat keluarga, yakni KH. Hafiluddin, (semoga Allah SWT memberkahi umurnya) dikatakan bahwa KH. Asy’ari Umar belajar di Mekkah selama 9 tahun. Ada pula riwayat dari bapak Umar Said, putra beliau, yang mengatakan bahwa ayahnya belajar di Mekkah selama 6 tahun.

Selama menempuh pendidikan di Mekkah, disana telah berkembang ajaran Wahabi. Setelah menempuh pendidikan di Mekkah, KH. Asy’ari Umar kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya ke Mesir bersama KH. Nur Yasin. Saat itu di Mesir berkembang paham pembaharuan (tajdid) dengan tokohnya Muhammad Abduh. KH. Nur Yasin terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh, lewat salah satu karyanya Ajrul Islam. Begitu pula dengan KH. Asy’ari Umar.

Berdasar penuturan adik beliau, KH. Hafiluddin, (semoga Allah SWT memberkahi umurnya) selama di Mesir KH. Asy’ari Umar tertarik dengan gagasan pembaharuan. Dinamika kehidupan Mesir sebagai pusat peradaban ilmu dan gerakan sosial pada jati diri KH. Asy’ari Umar memberi pengaruh bagi proses beliau dalam menjalankan dakwah di zaman penjajahan Belanda. Jika mengacu pada tahun wafatnya KH. Asy’ari Umar tahun 1967, tentu selama menempuh pendidikan di Mesir beliau masih mengikuti zaman pembaharuan di Mesir dengan tokohnya Muhammad Abduh. Sebagai Negara Islam yang saat itu juga sedang berada dibawah penjajahan Perancis dan Inggris, dinamika kehidupan Mesir tak jauh berbeda dengan yang Ays’ari Umar rasakan di Madura. Dua kondisi yang dirasakan ini tentu membuka pandangan KH. Asy’ari Umar tentang gerakan pembaharuan.

Di Mesir ini pula KH. Asy’ari Umar mempeljari bahwa upaya revolusi terhadap penjajahan tidak serta merta hanya dapat dilakukan melalui perjuangan fisik. Perbaikan menuju perubahan metode pemikiran pada umat Islam jauh lebih efektif, meskipun tidak dapat dirasakan lebih cepat pengaruhnya bagi upaya peningkatan harkat masyarakat Madura. Masyarakat Madura yang saat itu masih terkontaminasi oleh pemikiran budaya local tentu membutuhkan sebuah pencerahan pemikiran.

Dengan semangat akan haus terhadap ilmu, KH. Asy’ari Umar tentu sedikit banyak telah membaca literatur-literatur non agama, seperti pendidikan, politik dan organisasi.

Selama di Mesir ini pulalah, Asy’ar Umar sesungguhnya belajar bagaimana memadukan ilmu agama dan ilmu dunia. Melalui literatur non agama tersebut, KH. Asy’ari Umar dalam benaknya menemukan jalan tengah (al-manhaj al-wustho). Yaitu bagaimana menyeimbangkan antara ilmu agama dan ilmu umum, menyelaraskan antara kelompok yang berpegang teguh pada kejumudan taqlid dan mereka yang berlebihan dalam mengikuti Barat baik itu pada budaya dan disiplin ilmu yang mereka miliki.

Sebagaimana yang diungkapan oleh Muhammad Abduh dalam metode pembaharuannya: “sesungguhnya aku menyeru kepada kebebasan berfikir dari ikatan belenggu taqlid dan memahami agama sebagaimana salaful umat terdahulu”. Yang dimaksud dengan salaful umat di sini adalah kembali kepada sumber-sumber yang asli yaitu alqur’an dan al-hadist sebagaimana yang dipraktikkan oleh para salafus shaleh terdahulu.

Pemikiran Muhammad Abduh tidak saja berdampak bagi sarjana-sarjana muslim dari Arab tapi juga bagi santri-santri Indonesia yang sedang belajar disana. Gelora percikan pandangan Muhammad Abduh tentu sekurang-kurangnya berpengaruh pada diri KH. Asy’ari Umar. Sebut saja misalnya, pandangan tentang pentingnya pendidikan bagi umat Islam. KH. Asy’ari Umar sebagaimana Muhammad Abduh tentu berpandangan sama dalam hal ini, yaitu bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan masa depan umat adalah dengan melakukan perbaikan system pendidikan sebagai asas dasar dalam mencetak muslim yang shaleh.

Al-Azhar yang merupakan miniature peradaban pendidikan tentu memberi kesan mendalam bagi setiap sarjana yang menuntut ilmu di Mesir. Tak terkecuali KH. Asy’ari Umar. Oleh karenanya, melakukan perbaikan pendidikan tentu harus dimulai dari bangku sekolah, dengan kata lain lembaga pendidikan. Sebab, lembaga pendidikan merupakan gerbang utama dalam membenahi pola pikir masyarakat. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Mesir tentu menjadi bekal tersendiri bagi seorang KH. Asy’ari Umar untuk melakukannya di Madura kelak, utamanya dalam menghalau pengaruh pandangan-pandangan misionaris seperti Snouck Hurgronje semasa zaman penjajahan Hindia Belanda.

 

  1. Kembali ke Bangkalan: Menguji Wawasan di Madura

Sesuai dengan perintah gurunya, Syaichona Kholil, sewaktu masih di Bangkalan KH. Asy’ari Umar diwasiati agar jangan kembali ke Indonesia, sebelum dipanggil oleh Syaichona. Berdasarkan riwayat adik, KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT memberkahi umurnya), diceritakan oleh KH. Asy’ari Umar sewaktu kembali ke Madura, beliau katanya pada suatu malam bermimpi dipanggil Syaichona Kholil. Beliau pun akhirnya teringat pada pesan gurunya dahulu sebelum berangkat. Sebenarnya beliau masih ingin lebih lama di Mekkah, karena sudah merasakan nikmatnya mencari ilmu bersama-sama orang-orang dengan budaya dan pola piker yang berbeda-beda. Beliau masih beranggapan bahwa ilmunya masih kurang, apalagi belajar di Tanah Haram pahalanya bukan main besarnya. Beribadah dan berilmu, berilmu dan beribadah. Namun karena kepatuhannya kepada sang guru, beliau akhirnya kembali ke Indonesia.

Masih menurut KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT memberkahi umurnya), sepulang dari Mekkah, KH. Asy’ari Umar tidak langsung mengajarkan ilmu yang didapat dari Mekkah. Beliau masih berinteraksi dengan gurunya, seraya menanyakan dan saling bertukar pikiran tentang ilmu-ilmu yang telah diajarkan Syech Hasan al- Yamani dan Syech Said al-Yamani sewaktu di Mekkah. Selama menjalani kehidupan normal di Bangkalan, beliau banyak berkenalan dengan ulama di daerahnya, diantaranya KH. Nawawi, KH. Akram dan KH. Zuhaimi. Diantaranya kedua ulama sezamannya, KH. Asy’ari Umar merupakan sosok yang sangat diakui ilmu Nahwu dan Shorrofnya. Beliau bahkan sering mengoreksi bacaan arab masyarakat Bangkalan.

Sepulang dari Mekkah, satu-satunya ulama saat itu yang seusia dengan KH. Asy’ari Umar diantaranya adalah KH. Nawawi, KH. Akram, dan KH. Zuhaimi. Keempat ulama tersebut sering menjadi rujukan masyarakat dalam belajar al-Qur’an. Hanya saja, ketiga ulama sepantarannya, hanya KH. KH. Asy’ari Umar yang bisa membaca dan menulis.

Beliau sering membetulkan bacaan arab orang Madura. Misalnya nama “Abdul Adlim” oleh orang-orang saat itu dibaca “Abdul lalim”. Bacaan akhir kalimat surat al-Fatihah “Ngairil maghdlubi ‘alaihim waladlalin”, dibaca “ngairil maglubi ‘alaihim walad-delolin”. Cara baca yang beda tentu memberi arti yang berbeda. Selain itu, tulisan arab pada waktu itu tidak berharokah, sehingga kalimat “ayyekunuh” dibaca “ayyekunah”.

Sebagai orang alim yang mempelajari tujuh bacaan al-Qur’an dan memahami berbagai dialek orang Arab di Mekkah, KH. Asy’ari Umar tentu telinganya menjadi geli mendengar bacaan imam sholat di musala-musala di daerahnya.

Tidak hanya bacaan, tulisan pun di zaman KH. Asy’ari Umar banyak yang salah tulis, karena hanya mengikuti bentuk suara. Misalnya kalimat “Allahumma shalli sabil iqli”. Kata ”iqli” ditulis ”ikli”.

Kehidupan KH. Asy’ari Umar sepulang dari Mesir lebih padat dari sebelumnya. Beliau tidak saja mengoreksi bacaan Arab masyarakat Madura. Tapi jauh lebih beliau sudah menjadi salah satu ulama yang sering diminta pendapatnya oleh masyarakat tentang sebuah persoalan. Dalam menangani pesantrennya, KH. Asy’ari Umar memulainya sejak subuh. Kebiasaan beliau sebelum sholat Subuh adalah membangunkan santri – santrinya untuk bersiap-siap sholat subuh. Setelah itu, beliau mengajar (morok) al-Qur’an kepada santri – santri, termasuk membetulkan bacaan al-Qur’an mereka.

Setelah mengajar al-Qur’an beliau mengajar Kitab Kuning, sebuah kitab berbahasa Arab, misalnya Sullam Safinah, hingga menjelang pukul 8 pagi. Setelah itu beliau pergi ke sawah bertani. Untuk zamannya, pola pikir bertani di kalangan kiai tentu sangat kuat. KH. Asy’ari Umar yang sejak remaja telah banyak membantu orang tuanya bertani telah terbiasa dengan kehidupan bertani. Khusus malam Senin dan Kamis, beliau mengajar Ratibul Haddad, sebuah bacaan puji-pujian dan shalawat yang biasa dibaca kalangan Habaib, sementara Nyai Sa’diyah memimpin istighosah bersama ibu-ibu dan santriwati.

Semua kitab yang diajarkan oleh KH. Asy’ari Umar adalah kitab Arab bertuliskan pegon, atau biasa disebut Arab Pegon. Arab pegon, sebenarnya hanya merupakan ungkapan yang digunakan oleh orang Jawa, sedangkan untuk daerah Sumatera disebut dengan aksara Arab-Melayu. Jadi, huruf Arab pegon atau disebut dengan aksara Arab-Melayu ini merupakan tulisan dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa lokal.

Dikatakan bahasa lokal karena ternyata tulisan Arab pegon itu tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja tapi juga dipakai di daerah Jawa Barat dengan menggunakan Bahasa Sunda, di Sulawesi menggunakan Bahasa Bugis, dan di wilayah Sumatera menggunakan Bahasa Melayu.

Rasanya disini perlu sedikit diurai bagaimana keberadaan kitab bertuliskan Arab pegon di Nusantara sangat erat kaitannya dengan syi’ar Agama Islam. Arag pegon diduga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para ulama sebagai upaya menyebarkan Agama Islam. Selain itu aksara Arab ini juga digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, dalam kesusasteraan Jawa ada juga yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, penggunaan huruf ini terutama untuk kesusasteraan Jawa yang bersifat agama Islam,8 aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Jawa disebut dengan aksara Pegon.9 Bukan hanya kesusasteraan Jawa saja tapi ternyata mencakup Nusantara karena menurut Drs. Juwairiyah Dahlan, bagi mereka yang mempelajari kesusasteraan Indonesia seringkali menggunakan aksara Arab ini, bahkan di Malaysia disebut dengan aksara Jawi.

Dengan aksara Arab ini, telah ditulis dan dikarang ratusan buku mengenai ibadah, hikayat, tasawuf, sejarah nabi-nabi dan rosul serta buku-buku roman sejarah. Pada zaman penjajahan Belanda, sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, seringkali aksara Arab dipergunakan dalam surat menyurat, bahkan dikampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan, banyak sekali orang yang masih buta aksara latin tetapi tidak buta aksara Arab, karena mereka sekurang-kurangnya dapat membaca aksara Arab, baik untuk membaca Al-Qur’an maupun menulis surat dalam bahasa daerah dengan aksara Arab.

Menurut Prof. Dr. Denys Lombard, menjelang tahun 1880 aksara Arab masih digunakan luas untuk menuliskan Bahasa Melayu dan beberapa bahasa setempat (seperti Bahasa Aceh atau Minangkabau).

Beragam usaha untuk mempertahankan penggunaan aksara Arab ini, salah satunya di daerah Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Buton. Aksara Arab dengan Bahasa Bugis/Walio dianggap sebagai salah satu khasanah kebudayaan daerah dan kini sedang digalakkan pelestariannya, salah satu caranya yaitu dengan mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga perguruan tinggi sebagai salah satu pilihan dalam kurikulum muatan lokal.

Keberadaan penggunaan Arab pegon di pondok pesantren KH. Asy’ari Umar masih saat ini masih tetap dipertahankan. Karena selama ini pesantren masih dianggap banyak membawa keberhasilan dalam pencapaian berhasilnya pelajaran dan pengajaran Bahasa Arab. Penerapan penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon dalam pengajarannya biasa disebut dengan Ngabsahi14atau Ngalogat15 dalam menerjemahkan dan memberi makna pada Kitab Kuning.

Pengertian umum yang beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan berbahasa arab, atau berhuruf arab, sebagai produk pemikiran ulama masa lampau (as-salaf) yang ditulis dengan format khas pramodern, sebelum abad ke-17-an M. Dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning adalah kitab-kitab yang, ( a) ditulis oleh ulama-ulama “asing”, tetapi secara turun-temurun menjadi reference yang dipedomani oleh para ulama indonesia, (b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang “independen”, dan c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing”.

Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di Timur Tengah, dikenal dua istilah yang menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Katagori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab modern (al-kutub al-ashriyyah). Perbedaan pertama dari yang kedua dicirikan, antaara lain, cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (baca: sandangan- fatkhah, dhommah, kasroh). Dan sebutan kitab kuning pada dasarnya mengacu pada katagori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (alkutub al-qodimah).

Spesifikasi kitab kuning secara umum terletak pada formatnya (lay-out), yang terdiri dari dua bagian: matn, teks asal (inti), dan syarh (komentar, teks penjelas atas matn). Dalam pembagian semacam ini, matn selalu di letakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarh-karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matn-diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning.

Ukuran panjang-lebar kertas yang digunakan kitab kuning pada umumnya kira-kira 26 cm (quarto). Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 2 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkn salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara terpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengajian, santri hanya membawa korasan tertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai-ulama.

Hal yang membedakan kitab kuning dari yang lainnya adalah metode mempelajarinya. Sudah dikenal bahwa ada dua metode yang berkembang di lingkungan pesantren untuk mempelajari kitab kuning: adalah metode sorogan dan metode bandongan. Pada cara pertama, santri membacakan kitab kuning dihadapan kiai-ulama yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa (nahw dan sharf).

Sementara itu, pada cara kedua, santri secara kolektif mendengarkan bacaan dan penjelasan sang kiai-ulama sambil masing-masing memberikan catatan pada kitabnya. Catatan itu bisa berupa syakl atau makna mufrodhat atau penjelasan (keterangan tambahan). Penting ditegaskan bahwa di kalangan pesantren, terutama yang klasik (salafi), memiliki cara membaca tersendiri yang dikenal dengan cara utawi-iki-iku, sebuah cara membaca dengan pendekatan tata bahasa (nahw dan sharf) yang ketat.

Selain kedua metode diatas, sejalan dengan usaha kontekstualisasi kajian kitab kuning, di lingkungan pesantren, dewasa ini telah berkembang metode jalsah (diskusi kelompok) dan halaqoh (seminar). Kedua metode ini lebih sering digunakan di tingkat kiai-ulama atau pengasuh pesantren, namun sekarang pun sudah sering dilakukan oleh santri. Guna membahas isu-isu kontemporer dengan bahan-bahan pemikiran yang bersumber dari kitab kuning.

Ilustrasi berikut ini dapat memberikan suatu gambaran yang jelas bagaimana metode ini dilaksanakan dalam praktik:

Teks tersebut diatas diambil dari kitab Ta’lim al Muta’lim. Huruf-huruf besar syang horisontal adalah teks asli Bahasa Arab, sedangkan huruf-huruf kecil di antara tulisan horisontal yang ditulis miring kebawah adalah terjemahannya dalam bahasa Jawa. Teks asli dalam Bahasa Arab ditulis dengan vowels (dalam bahasa Jawa disebut nganggo sandangan) atau Arab Pegon. Murid-murid harus belajar dari kitab-kitab gundul yang ditulis tanpa huruf hidup atau tanpa syakal. Ilustrasi tersebut menunjukkan bagaimana cara penerjemahan teks Arab ke dalam Bahasa Jawa.

Perkataan Arab Al-Hamdu lillahi diterjemahkan utawi sekabehane puji iku keduwe Alloh, yang berarti ”Segala puji adalah kepunyaan Alloh”. Perkataan Al-hamdu yang didahului oleh al dan diakhiri dengan huruf hidup U (dzamah U) dan dalam Bahasa Jawa didahului dengan kata utawi dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa perkataan tersebut adalah mubtada’ atau pokok kalimat. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh murid-murid, sebab kitab-kitab yang diajarkan dalam metode sorogan dan bandongan ditulis tanpa syakal, sehingga untuk dapat membacanya dengan benar dan cocok para murid harus menguasai tatabahasa Arab.

Tulisan sebagai lambang tertulis dari suatu bahasa berfungsi sebagai alat untuk dibaca agar dipahami maksud yang terkandung didalamnya. Kemampuan membaca dipakai untuk memahami maksud tulisan sehingga membaca untuk menjadi paham. Pemakaian Bahasa Jawa dalam penulisan Arab Pegon sebagai sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren merupakan salah satu simbol masuk dan bercampurnya Budaya Jawa sebagai usaha untuk lebih dapat memahami isi kitab kuning yang didalamnya menggunakan Bahasa Arab.

Bagi seorang KH. Asy’ari Umar yang disebutkan oleh adiknya, KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT memberkahi umurnya), cara pengajaran beliau menggabungkan metode ceramah dan dongeng. Jadi beliau tidak sekedar membaca kitab saja, melainkan juga menerangkan kisah-kisah nabi dan rasul termasuk ulama-ulama seperti al-Ghazali, misalnya ketika mencari ilmu. Setiap dongeng yang diceritakan dikaitkan dengan muatan (content) pelajaran yang sedang dipelajari santri, sehingga pendidikan dan pengajaran kitab kuning tidak sekedar transfer pengetahun, tapi juga sejarah, nilai dan makna sebuah peristiwa juga ikut diterima santri yang mengikuti pengajaran beliau. Santri kemudian tidak sekedar alim, tapi juga dipupuk dengan nilai-nilai ketawadlu’an sebagaimana beliau dapatkan dari Syaichona Kholil dan guru-guru beliau lainnya.

Metode ini tentu saja menimbulkan kesan mendalam bagi santri-santri yang diajarkan, karena pola pengajaran seperti ini tidak sekedar transfer ilmu melainkan juga membangun ikatan guru dan santri. Sehingga wajar, adakalanya santri yang masih hidup ketika mengenang kehidupan gurunya, menangis tersedu-sedu saat terbanyang masa lalunya dengan sang guru. Inilah mungkin kelebihan model pendidikan sorogan atau klasikal yang biasa digunakan di kalangan pesantren dibandingkan metode sekolah saat ini.

 

BAB III

KIPRAH SOSIAL KEMASYARAKATAN : HISTORICAL VALUES KH. ASY’ARI UMAR

 Ibarat pepatah gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan amal perbuatan. Mengenang sosok KH. Asy’ari Umar tentu tak lengkap rasanya bila tak menyebutkan jasa dan kesan beliau, baik di mata masyarakat maupun bagi keluarga. Sosok ayah, teman, dan guru begitu melekat bagi seorang KH. Asy’ari Umar. Sosoknya yang sopan, rendah hati, sabar dan pekerja keras begitu melekat di bayang-bayang masyarakat, santri dan khusunya putra-putri beliau. Lebih-lebih jika mengenang kiprahnya, maka nama KH. Asy’ari Umar rasanya tak mudah untuk dilupakan. Bisa jadi untuk orang segenarasinya mungkin tak banyak yang masih hidup di zaman sekarang. Tetapi kenangan orang-orang yang ditinggalkan tak mudah melupakan kehidupan KH. Asy’ari

 

  1. Dari Jubir hingga Ulama: Relasi dan Wawasan KH. Asy’ari Umar

Seseorang yang memiliki pengetahuan luas pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki hubungan luas dengan semua level masyarakat. Tidak hanya hamba sahaya, raja pun menjadi terpikat dengan profil orang-orang yang berpengetahuan luas. Sebut saja misalnya, Abu Nawas. Bagi penggemar roman sufi klasik, sosok Abu Nawas memiliki segudang cerita yang melekat pada dirinya. Ada roman yang mengisahkan ketika Abu Nawas menjalin hubungan dengan orang awam, ada pula roman kehidupan beliau dengan pencuri, bahkan juga ada kisah romannya ketika menjadi penasehat raja Harun al-Rasyid. Semua itu lengkap ada pada diri Abu Nawas.

Begitu pula dengan KH. Asy’ari. Beliau yang dikenal sebagai seseorang yang alim, berpengetahuan luas, tentu memiliki hubungan yang luas pula. Tidak saja dengan santri dan masyarakat sekitar tempat tinggal beliau, tapi juga dengan pejabat di Madura secara keseluruhan. Hubungan itu ada kalanya terjalin sebagai sunnahtullah sebagai mahluk sosial, tapi ada pula karena faktor pengikat yang lebih besar kepentingannya untuk masyarakat.

Dalam tradisi nusantara, hubungan ulama dengan pemerintah (umaro) telah terjalin sejak zaman kerajaan. Dalam Babad Tanah Jawa, yang terpengaruh dengan sinkretisme Hindu-Budha-Islam sudah dikenal berbagai kasta yang memisahkan antara golongan brahmana dan ksatria.

Kehadiran sembilan wali di tanah Jawa, pada akhirnya harus berhadapan secara diametral dengan golongan penguasa di kerajaan-kerajaan. Pada jaman itu, ulama memiliki peran sebagai tempat bertanya, tempat mereguk ilmu-ilmu akhirat sekaligus sebagai tempat para calon raja mendapatkan restu yang nantinya bisa diangkat sebagai raja.

Ulama adalah songgo buwono, penyangga bumi, atau penentu maju tidaknya peradaban justeru karena dia dekat dengan Allah SWT. Sementara Raja (Umaro) mengatur urusan dunia, dan wali (ulama) memiliki urusan akhirat. Yang perlu dicatat bahwa pada masa wali songo ini, peran raja saling melengkapi dengan para wali.

Sedemikian hingga untuk urusan tertentu seperti suksesi kekuasaan, para keturunan raja ini harus meminta petunjuk dari para wali, untuk seterusnya oleh para wali diteruskan dengan berdoa kepada Allah SWT untuk meminta wangsit, petunjuk dan hidayah siapa yang cocok menjadi pemimpin.

Sedemikan penting posisi ulama di nusantara, maka terasa wajar jika kiprah KH. Asy’ari Umar tidak bisa dianggap remeh. Seperti diketahui pada zaman pembangunan, berbagai program pemerintah seringkali tidak berjalan sukses.

Dalam hal ini, untuk wilayah Bangkalan KH. Asy’ari Umar memainkan peranan penting dalam membantu peran pemerintah. Sebagaimana diceritakan oleh adik beliau, KH. Hafiluddin (semoga Allah mencurahkan rahmat atas umurnya), semasa hidupnya KH. Asy’ari sering diundang pejabat. Bahkan menurut bapak Umar Said, Putra KH. Asy’ari Umar, ayahnya seirng diminta tolong oleh pejabat pemerintah untuk ikut mensosialisasikan program-program pemerintah, semisal Keluarga Berencana (KB) meskipun KH. Asy’ari Umar sendiri menurut penuturan Nyai Rum, putrinya, tidak setuju dengan program KB tersebut.

Di jaman Belanda, KH. Asy’ari selalu didatangi pejabat untuk sekedar berdiskusi perkembangan masyarakat. Namanya kiai warok, pejabat yang datang tak pernah disambut dengan meriah seperti saat ini. Beliau lebih suka menghormati pejabat apa adanya. Tidak perlu memakai acara penyambutan. Begitu pula ketika KH. Asy’ari Umar datang memenuhi undangan pejabat pemerintah. Beliau tidak pernah ketika hadir memposisikan diri sebagai seorang ulama besar.

Pendek kata, apa yang bisa dibantu, ya beliau bantu. Kalaupun tidak bisa membantu saat itu, KH. Asy’ari Umar pasti akan mencarikan jalan keluar pejabat pemerintah yang meminta tolong tersebut dengan mencari informasi kepada teman-teman seperjuangan beliau.

Sepeninggal Syaichona Kholil, KH. Asy’ari Umar semakin sering mandapat panggilan dari pejabat setempat. Bahkan tak jarang beliau ke Jakarta dan Surabaya untuk mendapat mendapat pengarahan seputar program-program pemerintah.

Kendati beliau tidak bisa menulis latin, kecuali arab pegon, peranan KH. Asy’ari Umar tidak sedikitpun menggunakan jalinan relasinya dengan umaro atau pemerintah sebagai ajang untuk mengeruk kepentingan pribadi. Biasanya, menurut KH. Hafiluddin (semoga Allah memberkahi umurnya), KH. Asy’ari Umar jika ke Jakarta tidak lupa mengunjungi santri-santrinya yang berada di Jakarta.

Terjalinnya hubungan KH. Asy’ari Umar dengan kalangan umaro semasa hidupnya dipengaruhi wawasan dan pengalamannya yang luas. Beliau tidak saja memahami ilmu agama, tapi juga aktif berorganisasi, tepatnya di Hisbullah dan Masyumi. Pengalaman-pengalaman semasa di Hisbullah dan Masyumi inilah yang menjadi bekal beliau untuk memahami maksud permintaan pejabat pemerintah yang datang kepada beliau. Biasanya pejabat yang datang mengunjungi beliau meminta KH.Asy’ari Umar untuk ikut menyukseskan program pemerintah. KH. Asy’ari Umar tentu tidak dengan serta merta mengabulkan permintaan pejabat tersebut. Beliau biasanya bertanya dan mendiskusikan permintaan itu dengan sang empu hajat. Baru setelah beliau memahami maslahah-mursalah-nya (inti persoalan), beliau kemudian mengabulkan permintaan pejabat pemerintah.

Dalam mensosialisasikan programprogram pemerintah, KH. Asy’ari Umar tidak gampang menjual dali-dalil naqli (al-Qur’an dan Hadits). Bahkan beliau tanpa harus mengularkan dalil, masyarakat sudah mengikuti ajakan beliau untuk ikut program pemerintah. Sebut saja misalnya KB dan berobat ke dokter atau ke puskesmas.

Ketika ada seorang anak sakit cacar, orang tua dari anak tersebut tidak mau berobat ke puskesmas, meskipun jelas-jelas biayanya murah. Mereka lebih memilih dukun atau tabib. Ketika didengar oleh KH. Asy’ari Umar, beliau kemudian mengajak orang tua itu ke puskesmas. Baru orang tua tersebut mau berobat ke puskesman. Jadi KH. Asy’ari Umar ikut mengantar ke puskesmas.

Melihat kesuksesan pendekatan KH. Asy’ari Umar dalam mensosialisasikan program-program pemerintah seperti dijelaskan diatas, seringkali timbul dalam benak pikiran sang pejabat pemerintah untuk menawarkan kendaraan politik kepada KH. Asy’ari Umar. Ketika era politik multi partai seperti saat ini, banyak pejabat yang meminta beliau untuk bergabung dengan partai politik.

Namun, beliau tidak pernah mengiyakan permohonan itu. Bagi beliau keikhlasannya dalam membantu program pemerintah sama sekali tidak untuk mendapatkan tawaran masuk partai politik, apalagi sampai menjadi penguasa. Pikiran ini sangat jauh dari benak KH. Asy’ari Umar. Baginya, membantu pemerintah tidak harus melalui partai politik. Pilihan ini dipilih karena faktor beliau tidak menguasai ilmu politik, atau tidak tidak ingin diperintah orang lain. Bagi beliau, posisi ulama berada di tengah-tengah semua level masyarakat, bukan sekolompok orang atau golongan.

Fatwa-fatwa beliau sama sekali tidak untuk menarik simpati pejabat, tapi betul-betul karena ikhlas untuk ikut menyejahterakan masyarakat. Hal inilah mungkin yang menyebabkan mengapa nama KH. Asy’ari Umar kurang begitu bergaung dalam birokrasi dan politik. Tapi bagi beliau, tidak terkenal tidak ada persoalan. Bagi beliau Allah SWT saja sudah cukup. Semua ada di tangan-Nya. Ketika sang pemilik alam semesta ini mengabulkan permohonan hambanya, maka tak ada satu orang yang, entah pejabat atau raja, yang dapat menghentikan terkabulnya permohonan tersebut.

Hubungan dengan umara bagi KH. Asy’ari Umar tidak lain mentaati perintah al-Qur’an ”Ati’ullah wa ati’urrasul wa ulil amri minkum”. Duet ulama dan umara merupakan sebuah keharusan guna menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai, dan sejahtera serta berjalan dalam koridor agama sehingga mendapat perkenan Tuhan dan demi kemakmuran rakyat. Umara menetapkan kebijakan demi kemakmuran rakyat. Sedangkan ulama memberi arahan dan nasehat agar kebijakan yang diputuskan umara tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Singkatnya, ulama dan umara berkolaborasi memajukan perekonomian, pendidikan umat, menanamkan akhlakul karimah dan melawan segala bentuk kekerasan dan terorisme. Dari sini akan lahir negeri yang makmur yang diridhai Allah Swt (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

 

  1. Jejak Rekam Zaman Revolusi

Meski tak ada dukungan data konkrit tentang kiprah KH. Asy’ari Umar dalam membantu perjuangan masyarakat Bangkalan, namun cukup menarik menyimak cerita dari adik beliau. Menurut penuturan KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT senantiasa memberkahi umurnya), dikatakana bahwa KH. Asy’ari Umar pernah bergabung dalam kesatuan Hisbullah. Beliau semasa zaman Belanda, KH. Asy’ari Umar kerapkali ikut berjuang melawan penjajahan Belanda. Pernah dalam sebuah peristiwa melawan perjuangan, ada pesawat Belanda yang jatuh karena dilempar batu dengan memakai ketapel oleh seorang salah satu pasukan. Sebelumnya batu itu diambil oleh KH. Asy’ari Umar dan beliau membacakan sesuatu kepada batu itu yang kemudian batu itu digunakan oleh salah seorang pasukan untuk menembak pesawat Belanda tersebut.

Ada peristiwa aneh lainnya yang pernah diceritakan oleh KH. Hafiluddin. Menurut cerita KH. Rawi, KH. Hasyim Asy’ari pernah mengirim biji kacang ijo yang masih mentah kepada KH. Asy’ari Umar melalui santrinya. Pesan KH. Hasyim Asy’ari, agar biji-bijian kacang ijo tersebut dilempar kepada pasukan Belanda jika ada mereka datang menyerbu pasukan Hisbullah. Tidak hanya KH. Asy’ari Umar saja yang diberi, kyai-kyai yang lain juga diberi perintah yang sama oleh KH. Hasyim Asy’ari, termasuk juga H. Arif dan H. Bahruddin.

Ketika pasukan Belanda mulai memasuki pantai Rongkang, KH. Asy’ari Umar beserta pasukan Hisbullah lainnya melempar biji kacang ijo tadi. Tiba-tiba pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan dan meriam. Ternyata, dengan kekuasaan Allah, pasukan Belanda tersebut menembakkan senapan dan meriam karena melihat ratusan tentara memakai baju doreng hijau di hadapan mereka. Jadi, biji kacang ijo yang dilempar oleh KH. Asy’ari dan pasukan Hisbullah tadi tiba-tiba di mata pasukan Belanda tampak seperti pasukan Hisbullah lengkap dengan seragam doreng hijau dan senapan. Subhanallah Dakwah KH. Asy’ari Umar semasa penjajahan Belanda dan Jepang tentu tidak jarang harus berhenti di tengah jalan. Pernah ketika beliau sedang ceramah di suatu undangan di Kwanyar, tiba-tiba ada kabar bahwa pasukan Belanda sudah masuh daerah Kwanyar. Kemudian KH. Asy’ari Umar menyuruh kepada sebagian santri dan pasukan Hisbullah yang ada saat itu untuk menaburkan garam di sekitar pantai. Mereka melalui kemudian berjalan menyusuri sawah-sawah di Kwanyar guna menghindar dari pengintaian matamata Belanda. Lalu garam yang sudah diberi doa oleh KH. Asy’ari Umar ditebar di sekitar jalan yang hendak dilalui pasukan Belanda. Dengan izin Allah, tiba-tiba pasukan Belanda yang sudah datang itu kembali menarik diri kembali ke Surabaya.

Keanehan dan karomah para ulama pada zaman kemerdekaan ini jika dikaji dengan akal sehat tentu tidak mungkin ada yang percaya dan masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah batu bias menjatuhkan pesawat? Bagaimana biji kacang ijo dapat berubah menjadi segerombolan pasukan, dan bagaimana mungkin garam dapat menggagalkan kedatangan pasukan Belanda?

Tapi Allah tentu tak terbatas kuasanya. Ia memiliki kuasa untuk menciptakan alam semesta hanya dengan kalimat “kun fayakun”. Jika alam semesta saja dicitakan dengan cukup dengan “kun fayakun”, apalah susahnya Allah memberi karomah kepada seorang ulama sehingga ulama tersebut bisa mengubah biji kacang ijo menjadi segerombolan pasukan, atau menjatuhkan pesawat Belanda hanya dengan sekali lemparan batu kecil?

Jika Allah memberi, maka tak seorang pun di muka bumi yang bisa mencegahnya. Tak terkecuali pasukan ratu Wilhemia Belanda juga. Sewaktu di zaman Belanda, KH. Asy’ari Umar pernah ditangkap belanda. Salah satu kebiasaan KH. Asy’ari Umar adalah memberi uang kepada orang-orang miskin (dhu’afa). Setiap pagi, KH. Asy’ari Umar sering menebar uang receh kira-kira semangkok untuk diberikan kepada orang-orang fakir miskin. Kebiasaan tersebut oleh Belanda dianggap bahwa KH. Asy’ari Umar membuat uang.

Sebagai seorang kyai yang kharismatik, uang bukan persoalan, bahkan jika seseorang yang dekat dengan Allah SWT materi selalu. Ini yang terjadi pada diri KH. Asy’ari Umar. Tentu jangan ditanya bagaimana KH. Asy’ari Umar mendapatkan uang receh yang diberikan kepada orang-orang setiap harinya.

Setiap hari banyak tamu yang dating kepada beliau untuk minta bantuan. Biasanya setiap tamu yang datang memberikan sedekah berupa hasil bumi dan uang kepada KH. Asy’ari Umar sebagai penghormatan dan rasa terima kasih.

Ketika pendudukan berganti dibawah kekuasaan Jepang, KH. Asy’ari juga tidak pernah melunturkan semangat untuk berjuang. Beliau bersama ratusan santri dan masyarakat serta para kyai ikut berjuang. Keadaan masyarakat ketika zaman Jepang tak lebih dari pendudukan Belanda. Malah penderitaan masyarakat semakin parah. Jepang, tidak saja menyiksa penduduk yang membangkang kepada Jepang. Mereka malah melakukan praktek romusha dengan cara merekrut paksa orang-orang untuk membuat keperluan pendudukan Jepang.

Sebagai penjajah yang baru menggantikan Belanda, Jepang menangkap semua penduduk dan dijemur. Maksud Jepang tiada lain adalah ingin mengetahui mana yang rakyat biasa, mana yang keturunan ningrat, dan mana yang ulama. Saat itu, menurut KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT memberkahi umurnya), memisahkan ketiga kelompok masyarakat tersebut untuk selanjutnya diperiksa apa pekerjaan dan pendidikannya. Tidak ketinggalan juga KH. Asy’ari. Beliau juga termasuk ulama yang ditangkap oleh Jepang meskipun hanya sehari.

Bahkan menurut KH. Hafiluddin, pemerintah kolonial Jepang tak segan-segan menangkap penduduk di malam hari untuk dikirim sebagai pekerja romusha. Saat itu, yang paling menakutkan dari dari pendudukan Jepang adalah apabila ditangkap untuk menjadi pekerja romusha. Karena apabila kedapatan masuk daftar pekerja romusha, maka sudah pasti ia tidak akan kembali lagi ke tengah-tengah keluarga. Mereka disana dipekerjakan sebagai kuli tanpa makan dan minum.

Malamnya mereka dikumpulkan bersama dengan ratusan orang dalam ruang yang pengap, sehingga wajar jika kesehatan fisik dan psikis para pekerja romusha semakin lama semakin mengkhawatirkan, bahkan mengantarkan nyawa kepada kematian.

Selama pendudukan Jepang, kehidupan masyarakat sangat memprihatinkan. Penduduk tidak dapat bekerja seperti lazimnya rezim Belanda. Sumber-sumber ekonomi masyarakat diambil paksa untuk disetorkan ke gudang-gudang logistik Jepang. Bahkan masyarakat disuruh bekerja untuk keperluan Jepang. Masyarakat Kwanyar dulu pernah disuruh menanam pohon jarak (klekeh : bahasa Madura). Hasil panen biji jarak itu tidak diberikan kepada masyarakat, malah sebaliknya diambil sendiri oleh Jepang untuk memenuhi kebutuhan minyak pelumas dan pengganti minyak tanah. Minyak dari ekstrak biji jarak ini kemudian dipakai oleh Jepang untuk bahan bakar lampu di kantor-kantor administrasi Jepang.

Perbedaan strategi Jepang dengan Belanda ketika menjajah Indonesia terletak pada pendekatan mereka terhadap Islam. Semasa pendudukan Belanda, Islam dianggap sebagai musuh yang harus senantiasa diawasi dan dikurangi kekuatannya. Laporan Snouck Hurgroije selalu merekomendasikan bahwa hubungan para ulama dalam perjalanan ke Mekkah selain perjalanan spiritual, juga menjadi media komunikasi ulama untuk membangun kekuatan antar ulama di Indonesia. Karena itu, Belanda selalu membatasi gerak kelompok Islam, dibandingkan kelompok nasionalis.

Sementara Jepang menerapkan kebijakan yang sebaliknya. Meski Belanda dan Jepang memiliki pemahaman yang sama, yakni bahwa Islam merupakan agama yang mampu membangun patrotisme dengan semangat Pan Islamisme, namun Jepang memberi keleluasan lebih kepada kelompok Islam, dan sebaliknya menerapkan kebijakan keras kepada kelompok nasionalis. Jepang bahkan kurang lebih setahun setelah menduduki Nusantara Jepang membentuk Kantor Urusan Agama (bahasa Jepang Shumubu).

Tampaknya golongan agama lebih leluasa bergerak ketimbang saingannya golongan nasionalis. Tentang hikmah yang dipetik oleh Islam karena politik Islam Jepang itu, Deliar Noer menguraikannya dengan Jelas.

Berbeda dari pemerintah Belanda, memang

pihak Jepang sangat banyak menaruh perhatian

kepada gerakan dan perkembangan umat Islam.

Tampaknya mereka (Jepang, red), mendorong

dan memberi prioritas kepada kalangan Islam

dalam mendirikan organisasi mereka sendiri,

sedangkan organisasi kalangan nasionalis yang

netral agama tidak digalakkan. Untuk pertama

kali dalam sejarah moderen, pemerintah di

Indonesia secara resmi memberi tempat yang

penting kepada kalangan Islam.

Sikap pihak Jepang itu tidak dengan sendirinya

berarti melaga golongan nasionalis dengan

golongan Islam dengan maksud menguasai

keduanya, sungguhpun kemungkinan politik

pecah belah ini terdapat. Yang ielas ialah

pemerintah Jepang kemudian secara berangsur

mengakui organisasi-organisasi Islam sedangkan

tetap tidak membolehkan organisasi nasionalis

dari masa sebelum perang didirikannya kembali.

Organisasi Taman Siswa pun yang beroperasi

dalam bidang pendidikan mendapat pembatasan

dalam bergerak. Banyak sekolah menengahnya

ditutup. Pada tanggal 10 September 1943

pemerintah Jepang mengesahkan berdirinya

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama….

Meski Jepang dan Belanda memiliki kebijakan yang berbeda, inti dari pendudukan kolonialisme tetaplah sama, yaitu memperalat Islam untuk memperkuat kesan Jepang sebagai “Saudara Tua” Asia kepada masyarakat bawah. Namun, namanya kolonialisme tentu tak mudah dibungkus dengan semboyan saja. Kekejaman demi kekejaman Jepang akhirnya terbongkar dan menyebar di seantero nusantara. Tak terkecuali di Bangkalan.

Akhirnya, KH. Asy’ari Umar bersama para kyai bermusyawarah untuk menggembosi kekuatan tentara Jepang. Beliau dengan para kyai siang dan malam tak kenal lelah menyusun strategi perang gerilya untuk melawan tentara Jepang. Untuk melawan kekuatan tentara musuh saat itu, tentu tidak mudah. Sebab, Jepang sendiri sudah mengetahui kekuatan dan pola strategi pasukan Indonesia dari beberapa jenderal Belanda yang ditangkap oleh Jepang. Keterangan-keterangan dari mereka itu yang akhirnya digunakan oleh Jepang sebagai bekal menghadapi tentara gerilya Indonesia, yang salah satunya dikomandoi oleh para ulama.

Di akhir pendudukan Jepang, tepatnya menjelang 21-22 Oktober 1945 berkumpul para kyai di Surabaya untuk membahas perlawanan kepada Jepang. Meski nama KH. Asy’ari Umar tidak ditemukan dalam nama-nama peserta yang hadir saat itu, karena tidak tercatat, namun disebutkan bahwa dalam pertemuan itu, para kyai dari Madura juga ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Tentu jika melihat kiprah dan psisi KH. Asy’ari Umar yang sangat penting di mata pejabat Belanda dan Jepang serta masyarakat, tentu mustahil kiranya jika KH. Asy’ari Umar tidak dimasukkan dalam hal ini. Lebih-lebih jarak Surabaya dan Bangkalan hanya dibatasi sebuah selat. Penulis yakin seyakin yakinnya bahwa KH. Asy’ari Umar tentu ikut memiliki andil dalam pertemuan itu, meskipun sekedar menyebarkan hasil pertemuan ulama kepada masyarakat Bangkalan.

Segera setelah pertemuan itu, tepatnya tanggal 10 Nopember 1945 meletuslah sebuah pertempuran sengit. Bahkan dalam laporan M.C. Ricklefs, dikatakan ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah mengalir ke Surabaya.

Perang tak terelakkan sampai akhirnya Mallaby tewas. Sedemikian dahsyat perlawanan umat Islam, sampai salah seorang komandan pasukan India Zia-ul-Haq (yang kemudian menjadi presiden Republik Islam Pakistan) heran menyaksikan kyai dan santri bertakbir sambil mengacungkan senjata.

Sebagai muslim, hati Zia-ul-Haq trenyuh, dia pun menarik diri dari medan perang. Sikap Zia-ul-Haq itu membuat pasukan Inggris kacau.

Memasuki era kemerdakaan, tepatnya ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) menguasai kekuatan politik nasional, KH. Asy’ari Umar terus berjuang. Perjuangan melawan PKI tentu jauh lebih berat, mengingat musuh yang diperangi tak lain adalah saudara sesama Indonesia. Di era PKI ini, para kyai seringkali mendapat terror dan intimidasi fisik dan psikis. Tak ketinggalan juga KH. Asy’ari Umar. KH. Asy’ari Umar sendiri pernah merasakan tekanan PKI, tepatnya ketika ada seorang anggota PKI bernama Hamid ditangkap oleh KH. Asy’ari Umar. Hamid saat itu dihukum sambil duduk terikat di sebuah kursi. PKI yang saat itu sedang jaya-jayanya akhirnya kemudian mendatangi KH. Asy’ari Umar dan menarik KH. Asy’ari Umar untuk naik ke atas mobil truk.

Namun untungnya, seketika itu putri beliau Nyai Rum membentak kepada petugas PKI dan menyuruh agar ayahandanya diturunkan. Mungkin karena takut, akhirnya KH. Asy’ari diturunkan kembali dari truk.

Kendati demikian, semua tantangan itu tak mampu membuat KH. Asy’ari Umar lemah semangatnya untuk berjuang. Bersama-sama KH. Rawi dan ulama yang lain, beliau ikut menumpas PKI yang saat itu merekrut pemuda-pemuda desa yang tak tahu sama sekali apa ideology PKI.

Gerakan kleindesten (gerakan bawah tanah) juga dibalas dengan gerakan yang sama. Para ulama menyepakati bahwa ideology PKI yang hendak menyingkirkan peran agama dalam kehidupan masyarakat berhasil ditumpas bersama TNI.

Kematian KH. Jauhari dari Batu Ampar yang dibunuh orang seorang pengemudi delman ketika hendak buang air kecil di sebuah kali ikut membakar semangat para ulama se Madura untuk semakin giat menumpas PKI di bumi Madura.

 

  1. Menjadi Tempat Wadul Segala Persoalan Sosial Keagamaan

Tidak hanya dalam berjuang saja peran KH. Asy’ari Umar. Dalam kehidupan sehari-hari beliau menjadi panutan masyarakat Kwanyar dan Bangkalan. Mulai dari persoalan jodoh hingga program pemerintah selalu melibatkan KH. Asy’ari Umar. Dikisahkan oleh KH. Hafiluddin (semoga Allah memberkahi umurnya), setiap hari KH. Asy’ari Umar sering didatangi oleh masyarakat. Ada diantara mereka datang untuk menanyakan sebuah persoalan hukum agama, hingga persoalan rezeki.

Pernah suatu hari KH. Asy’ari didatangi oleh seorang tamu. Tamu itu ingin meminta bantuan nasehat dan dukungan moril dari KH. Asy’ari seputar niatnya. Tidak masyarakat biasa yang dating kepada beliau. Tidak sedikit kyai ada juga yang datang kepada beliau untuk bertanya. Diceritakan oleh KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT memberkahi umurnya) bahwa pada suatu hari datang seorang kyai, namanya KH. Usman dari Bapoloh. Beliau datang bersama KH. Dhofir dari Gresik. Rupanya maksud kedatangan KH. Dhofir adalah ingin menguji kepandaian KH. Asy’ari Umar.

Sebelumnya KH. Usman bilang kepada KH. Dhofir bahwa ada seorang kyai di Kwanyar yang alim. Seketika tiba di kediaman KH. Asy’ari Umar, KH. Dhofir itu langsung bertanya “bagaimana hokum wudlu’ tentang mengusap rambut di sebagian kepala bagi orang botak?”. Nama orang botak yang dimaksud KH. Dhofir adalah Tola’ah. Dijawab oleh KH. Asy’ari Umar, “yang wajib dibasuh di bagian muka adalah wajah hingga kuping dan bagian kepala cukup sampai di bagian dahi, meskipun rambutnya sudah habis atau botak. Jadi bukan seluruh kepala”, demikian jawab KH. Asy’ari Umar. Mendengar jawaban tegas itu, KH. Dhofir kaget bukan main.

Peristiwa lainnya adalah terjadi di Kamal. Pada suatu hari, ada seorang kyai yang meninggal sesaat setelah merebahkan tubuhnya setelah memimpin jemaah sholat ashar. Namanya KH. Yusuf. Kematian sang kyai tersebut menimbulkan geger bagi warga sekitar. Muncul perdebatan saat itu. Sebagian orang yang mengatakan bahwa mayat KH. Yusuf tidak usah dimandikan karena waktu itu keadaan sang empunya mayit dalam keadaan suci, alias masih memiliki wudlu. Kemudian berita itu dilaporkan kepada KH. Asy’ari Umar. Mereka menanyakan bagaimana memperlakukan mayit KH. Yusuf. Akhirnya, KH. Asy’ari berangkat menuju kediaman KH. Yusuf di Kamal.

Setibanya disana beliau berkata:

“Saudara-saudara, ada berapa yang

membatalkan wudlu?”.

“Ada empat kyai”, kata orang-orang. “

“Coba sebutkan?”, lanjut KH. Asy’ari Umar.

“Satu: menyentuh kulit lawan jenis yang bukan muhrim. Kedua: menyentuh dubur and kemaluan. Ketiga tidur, dan empat : hilang akal,” demikian jawab orang-orang.

“Nah Kyai Yusuf ini ketika tidur sudah hilang akal, belum?”, Tanya KH. Asy’ari Umar kepada orang-orang yang datang saat itu.

“Sudah kyai…”, kata mereka serempak.

“Baik, mandikan mayat KH. Yusuf ini”, kata KH. Asy’ari Umar. KH. Asy’ari Umar kemudian menjelaskan bahwa orang mati yang tidak usah dimandikan diantaranya adalah jika sewaktu sholat kemudian orang itu mati mendadak.

Sementara untuk kasus KH. Yusuf, beliau sudah dalam kondisi tidak suci, karena sebelum mati beliau sudah dalam kondisi tidur alias sudah dalam kondisi hilang akal. Disini tampak bagaimana kejelian seorang KH. Asy’ari Umar terkait dengan persoalan-persoalan yang menimpa di masyarakat.

Lebih lanjut KH. Hafiluddin (semoga Allah SWT memberkahi umurnya) menjelaskan bahwa kakaknya, KH. Asy’ari Umar memiliki karomah. Salah satu keanehan dari karomah KH. Asy’ari Umar yang sempat diingatnya adalah ketika ada tamu seorang blatter (pendekar). Ketika blatter itu hendak masuk ke kediamannya, KH. Asy’ari Umar bilang “ada apa? Saya sudah ngantuk. Sana cepat pulang”. Sang blatter itu dengan wajah sedih akhirnya pulang. Tiba-tiba beberapa hari kemudian blatter itu datang lagi kepada KH. Asy’ari Umar. Kedatangannya kali ini bukan minta tolong lagi, tapi mengabarkan bahwa niatnya terkabul. Kejadian ini sering terjadi berulang kali.

Jadi kalau orang datang kepada beliau untuk terus tidak ditemui oleh KH. Asy’ari Umar, maka biasanya niat tamu yang datang itu terkabul. Sebaliknya jika ada tamu datang kepada beliau dan dipersilahkan duduk, biasanya niatnya tidak terkabul. Malah dinasehati.

Ada satu cerita lagi. Pernah ada seorang tamu datang kepada KH. Asy’ari. Dia datang untuk meminta barokah. Dijawab oleh KH. Asy’ari Umar, “saya tidak punya barokah. Ini baca Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala sayyidina Muhammad. Kamu tahu, apa artinya shollu?”, tanya KH. Asy’ari Umar kepada tamunya.

“Artinya sholat, tahu kan? Sudah sholat sana”, begitu kata Kh. Asy’ari Umar. Ternyata betul. Niat orang tadi ternyata tidak terkabul.

Dibalik cerita ini, ada sebuah makna bahwa jika tamu yang datang kepada beliau tidak diterima duduk, malah disuruh cepat pulang menandakan bahwa KH. Asy’ari Umar tidak kasihan kepada orang itu. Karenanya, beliau tidak ingin berlama-lama duduk berbicara dengan orang yang niatnya hanya untuk materi. Sebaliknya, jika tamu yang datang dipersilahkan duduk dan diberi nasehat menandakan bahwa KH. Asy’ari Umar menyanyangi tamu tersebut. Sehingga beliau memberikan nasehat-nasehat dan bacaan untuk diamalkan oleh sang tamu.

Semua karomah yang dimiliki oleh KH. Asy’ari Umar ini tidak pernah membuat dirinya merasa unggul dan angkuh terhadap orang lain. Sebaliknya, beliau semakin bertawakal dan khusyu’ beribadah. Baginya cukup Allah SWT yang menjadi pelindung dan penunjuk jalannya. Kalaupun beliau dapat mengabulkan niat seseorang meski dengan cara yang aneh, semuanya itu atas izin Allah SWT. Jika Allah SWT tidak mengizinkan, maka tak ada seorangpun yang mampu mengubah keadaan seseorang. Satu-satunya cara untuk mengubah kehendak Allah SWT adalah dengan memperbanyak beribadah dan bersyukur kepada Allah SWT.

Dengan syukur itu, maka Allah SWT pasti akan menambah nikmatNya bagi hamba-hambaNya. Karena itu, makna kehidupan pribadi KH. Asy’ari Umar di tengah masyarakat ini memberi nilai hidup bahwa seseorang harus banyak bersyukur, karena dengan bersyukur maka hati dan pikiran menjadi terang dan semakin mudah mengarungi bahtera kehidupan.

 

BAB IV

MOTIVASI DAN PESAN ULAMA TIGA ZAMAN

 

  1. Jangan Pernah Menyusahkan Orang Lain : Mutiara Makna Hidup

Setiap kata yang keluar dari mulut seseorang merupakan citranya, walaupun tidak mutlak, namun hal ini bisa menjadi media untuk membaca isi alam bawah sadar seseorang. Dari itu, setidaknya, ada pemahaman bahwa ada keterhubungan antara alam bawah dan alam sadar seseorang pada tiap tindakan maupun pikirannya.

Jika jiwanya tenang, niscaya tindakan dan pikiran-pikirannya juga akan memancarkan ketenangan dan memberi kesejukan bagi sekelilingnya. Sebaliknya apabila jiwa seseorang tersebut mengalami sebaliknya, maka tidak menutup kemungkinan yang keluar darinya, adalah citra penghancur, dan syarat dengan masalah yang akan menimbulkan malapetaka bagi sekelilingnya.

Salah satu mutiara makna hidup yang senantiasa diterapkan dan diajarkan oleh KH. Asy’ari Umar kepada anak cucunya, yaitu; ”Je’ masossa oreng laen” (jangan pernah menyusahkan orang lain). Kalau ditelisik secara mendalam mutiara makna hidup ini, menemukan korelasinya dengan implementasi sebagai khalifatullah fi al-ardh, yang merujuk pada pengamalan nilai-nilai Qur’ani.

Dalam al-qur’an dijelaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi ciptaannya dan tidak menghendaki kesukaran bagi ciptaannya (QS. Al- Baqarah: 185). Ayat ini mempunyai kandungan makna yang sangat dalam, manusia sebagai khalifah mestinya merujuk pada ayat ini, sehingga dalam perannya sebagai khalifah benar-benar menjadi pribadi yang menyeluruh dan bermanfaat bagi alam semesta (rahmatan li al-’alamin).

Dari kata mutiara hidup di atas, ada prasangka baik terhadap jati diri KH. Asy’ari Umar, setidaknya dugaan kuat bahwa beliau sebagai seorang ulama memang benar-benar mempunyai kepribadian yang luar biasa. Tergambarkan pula, semenjak hidupnya beliau sangat peduli terhadap orang lain.

Kepedulian seseorang dapat menjadi barometer keikhlasan seseorang dalam menjalani hidup. Bisa dikatakan bahwa ikhlas sangat berhubungan dengan amal perbuatan yang baik, dan amal yang baik itu dasarnya tidak mengharapkan pamrih. Seorang KH. Asy’ari Umar sangat yakin dengan janji Allah, bahwa perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas, balasannya langsung dari Allah SWT. Dengan pahala yang dilipat gandakan. Menurutnya, dalam membantu seseorang janganlah setengah-setengah, kerahkan kemampuan secara total untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat dan sandarkan konsepsi ikhlas sebagai pedomannya, niscaya akan memetik buah kebaikan di kemudian hari.

Pengabdian yang tidak dilandasi dengan konsep ikhlas akan sia-sia. Sebab selain tidak mendapatkan pahala apa-apa, juga tidak akan memetik buah kebaikan akibat perbuatan yang tidak ikhlas. Secara manusiawi perbuatan ikhlas sangat berat sebab, manusia dilengkapi dengan sifat-sifat lain yang bertolak belakang, seperti riya’ (pamrih), takabbur (sombong), dan sebagainya yang dapat mengganggu, bahkan akan membatalkan perbuatan baik seseorang karena dikerjkan dengan tidak ikhlas. Untuk mendapatknnya perlu latihan dan kerja keras. Caranya, bahwa perbuatan manusia harus ditempatkan pada posisi sebagai abdullah (hamba) dan khalifatullah (pemimpin) di bumi, yang secara normatif memiliki tugas dan fungsinya sendiri-sendiri.

Konsekuensi sebagai abdullah (hamba Allah) harus pasrah total kepada sang khalik. Mengerjakan seluruh perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sedangkan konsekuensi sebagai khalifatulah (pemimpin), melakukan hal terbaik untuk kemaslahatan ummat manusia dan ciptaan Tuhan yang lainnya. Dengan kepasrahan yang total kepada sang pencipta dan tanggung jawab kepada manusia serta makhluk Tuhan lainnya. Maka, cita perjuangan yang ikhlas akan dapat tercapai.

 

  1. Jangan Pernah Menggantungkan Hidup Pada Orang Lain : Swasembada Pangan Pesantren

Seperti yang dijelaskan di bab sebelumnya, KH. Asy’ari Umar disamping kesibukannya sebagai seorang Kyai untuk memenuhi undangan masyarakat yang mempunyai hajatan, serta menerima tamu dari berbagai kalangan, beliau juga bertani seperti halnya masyarakat pada umumnya.

Bertani biasanya dilakukan oleh KH. Asy’ari Umar selepas dari memberikan pengajian kepada para santrinya di pagi hari. Setelah itu beliau berangkat ke sawah kadang sendiri, kadang membawa sejumlah santrinya. Berdasarkan keadaan ekonomi masyarakat pada saat itu berada di titik nadir, kekurangan pangan merajalela, kelaparan dan semacamnya menuansai masyarakat.

Fenomena ini ditanggapi oleh KH. Asy’ari Umar dengan bertani, seolah-olah beliau menyerukan agar mempunyai kemandirian pangan. Beliau juga sering mengatakan kepada anak cucu dan santri-santrinya, bahwa meminta bantuan pada orang lain merupakan keniscayaan. Namun, akan menjadi tidak niscaya jika melampaui batas kewajaran, meminta bantuan kepada orang secara berlebihan sehingga mempersulit orang lain.

Setidak-tidaknya, jangan jadikan ketergantungan kepada orang lain sebagai senjata nomer satu. Bayangkan juga, bagaimana kalau seandainya kita diandalkan orang lain. Lebih lanjut menurut beliau, semua orang pada dasarnya mempunyai lumbung rezeki masing-masing (bedeh beginnah beng sebeng), dalam artian mempunyai jatah sendiri-sendiri dari Allah. Ketidak yakinan akan ketentuan Allah mengakibatkan manusia bergantung nasib pada orang lain, yang terjadi jalan rezeki akan menutup dengan sendirinya.

Lebih lanjut, dengan kemandirian berarti seseorang telah memilih menjadi orang yang bermanfaat daripada menjadi orang yang memanfaatkan (deddiyeh oreng se amanfaat je’ deddih oreng se dujen amanfaaddih).

Perilaku ini, selaras dengan hadith Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani, yang artinya; ”Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada sesama manusia”.

 

  1. Sholati Kendati Hanya Kepala : Penghargaan terhadap Jati Diri Manusia

Seorang muslim meyakini bahwa setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram darah, harta, dan kehormatanya. Dan sesungguhnya seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Karena itu tidak boleh mendzaliminya, menelantarkannya, menyerahkannya kepada musuh, menghinanya, dan tidak boleh juga membuka rahasianya.

Seorang muslim wajib menghadiri undangan saudaranya apabila diundang, memberinya nasihat apabila diminta, memenuhi sumpahnya apabila bersumpah, mendoakannya apabila bersin, mengucapkan salam apabila bertemu, menjenguknya bila sakit, melayatnya bila meninggal. Hampir semua kewajiban seorang Islam yang disebutkan di atas, telah dilaksanakan oleh KH. Asy’ari Umar.

Diceritakan pada suatu hari ada seorang nelayan di kampungnya telah menemukan kepala manusia mengambang di tepi pantai (kmp. Pastgemek). Ketika itu, masih santernya isu PKI, oleh masyarakat kepala manusia tadi disuruh buang ke tengah laut lagi, tapi ternyata kepala tadi menepi lagi ketempat semula. Setelah tiga kali mengalami hal serupa, akhirnya dihaturkan kejadian itu kepada KH. Asy’ari. Mendengar penjelasan tersebut, beliau meminta agar kepala tadi dibungkus dengan kain kafan, setelah itu beliau dan masyarakat serta santri – santrinya shalat jenazah kemudian menguburkan layaknya orang mati pada umumnya.

Apa yang telah dilakukan oleh beliau dalam kejadian di atas merupakan salah satu pengamalan hadith Rasulullah SAW  tentang hak-hak muslim atas sesamanya. Dalam sabdanya tersebut, dijelaskan bahwa ”seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh mendzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh. Dan siapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari).

Kisah ini, menasbihkan begitu besarnya beliau memberikan penghargaan terhadap eksistensi manusia, walaupun hanya tinggal kepalanya, dan tidak tau asal-usulnya serta tidak tau apakah ia orang baik atau orang jahat. KH. Asy’ari Umar tetap memperlakukannya dengan penuh penghargaan.

Tiga mutiara makna hidup di atas, adalah sebuah implementasi dari akumulasi misi utama manusia kepada Allah SWT. Yakni sebagai ’abid (seorang hamba) yang seharusnya beribadah kepada Allah, dan memastikan setiap langkah dan gerak-geriknya harus searah dengan garis yang telah ditentukan oleh Allah. Setiap desah nafasnya harus selaras dengan kebijakan-kebijakan ilahiah, serta setiap detak jantung dan keinginan hatinya harus seirama dengan alunan-alunan kehendaknya.

Yang kedua, sebagai khalifah (pemimpin), artinya manusia adalah pemimpin atas dirinya demikian juga pada orang lain dimana ia merasa punya tanggung jawab di dalamnya untuk mengawal cita-cita ’ammah (umum) ”kesejahteraan bersama”. Hal ini, merupakan misi fungsional manusia yang bias terwujud kecuali dengan istiqamah di atas rel-rel rabbaniyah. Yang terakhir, disamping untuk beribadah dan sebagai khalifah, juga harus bias bermain cantik untuk memakmurkan bumi sebagai penerapan misi operasional, dengan menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan tidak berlebihan.

Intelligent Way To Get College Term Paper Outline Example more about the author Sensible Method Of Getting Best Website To Buy Term Papers